Tampilkan postingan dengan label Cerita Nakal Artis Indonesia Pakai Obat Perangsang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Nakal Artis Indonesia Pakai Obat Perangsang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 September 2015

Cerita Sex Amel Alvi Artis Cantik Indo

Cerita Sex Amel Alvi Berikut ini adalah cerita sex terbaru Artis Indonesia , cerita mesum, cerita dewasa paling hot cerita sex amel alvi artis yang lagi heboh. cerita mesum amel alvi artis indonesia, cerita dewasa berinisial AA tertangkap, cerita sex prostitusi online artis indonesia.

Cerita Sex Amel Alvi Artis Indonesia cerita nentot amel alvi

Cerita hot amel alvi artis indo

Cerita Sex Amel Alvi – Hari ini adalah hari yang paling penting dalam hidupku. Aku tidak pernah segugup ini menghadapi acara yang akan diselenggarakan siang ini. Anakku satu-satunya perempuan cantik yang sejak kecil kuberi nama Amel hari ini akan menikah . Umurnya sekarang 25 tahun bekerja di salah satu perusahaan minyak asing. Aku sendiri tahun ini genap 50 tahun. Dia bukan anak kandungku, karena sampai sekarang aku belum pernah beristri. Dia kutemukan terlantar di salah satu rumah sakit bersalin. Kata petugas di rumah sakit itu, ibunya sengaja meninggalkan anak itu . Ditunggu setahun keluarganya tak ada yang mengambilnya. Menurut isu yang beredar diantara suster-suster di rumah bersalin itu, Amel adalah hasil hubungan gelap antara majikan bule dengan pembantunya. Ketika pembantunya hamil si Bule pulang kenegaranya dan tidak pernah lagi memberi kabar, apalagi duit. Aku yang pada waktu itu menjenguk salah satu keluarga yang baru melahirkan menemukan Amel demikian namanya sering kupanggil.
Amel sekarang sudah dewasa, cantik, sexy, tinggi dan kulitnya putih. Rambutnya lurus agak kebule-bulean tergerai sampai ke bahu. Tinginya sekitar 175 cm, diatas tinggi rata-rata cewek Indonesia, Berat masih sepadan dengan tingginya yakni 65 kg. Dia dikaruniai tubuh yang montok, dengan ukuran buah dada 36 c dan pinggang 28 inci. Sehingga kelihatan ramping dan bokong yang gempal.
Amel mendapat suami seorang warga keturunan Inggris, Steven yang berusia 10 tahun diatas dia juga bekerja di perusahaan tempat Amel berkantor. Hanya saja Steven bekerja untuk pengeboran minyak di lepas pantai.
Acara perkawinan dilakukan secara adat daerah. Steven mengenakan baju adat Jawa. Acara pernikahan dan resepsi dilakukan secara simpel meskipun tidak dapat dikatakan sederhana. Sebab diselenggarakan di ball room hotel bintang 5 dan sekitar 1000 tamu yang menghadiri acara perkawinan Amel. Aku mendamping Amel, sementara Steven didampingi seniornya.
Selepas acara perkawinan itu Amel diboyong suaminya ke Thailand, karena Steve bertugas di lepas pantai Thailand.
Kembali ke masa lalu, entah kenapa aku iba melihat Amel yang polos terlunta-lunta di rumah sakit. Pada saat melihat Amel, aku sempat mengobrol dengan suster mengenai kemungkinan adopsi. Menurut suster di rumah sakit itu, pihak rumah sakit akan membantu sepenuhnya proses adopsi asal seluruh biaya ditanggung oleh pihak yang mengadopsi.
Ketika itu biaya adopsi masih terjangkau oleh kemampuanku. Aku tertarik mengadopsi anak itu yang kemudian kuberi nama AdAmel. Ketika mengadopsi Amel aku sudah bekerja sambil mengembangkan usaha. Di Jakarta aku memang hidup sendiri. Merantau dari satu desa kecil terpencil di Jawa Tengah. Aku hidup di Jakarta sejak lulus dari SMP. Aku berjuang sendiri sejak itu membiayai sekolahku sampai akhirnya bisa mendapat S-2 di bidang teknik. Ketika aku mengadopsi Amel aku baru membeli unit apartemen tipe studio di sebuah kompleks perbelanjaan terbesar di Jakarta.
Untuk mengurusny sehari-hari aku mempekerjakan baby sitter. Ketika siang hari aku bekerja, tugas mengawasi Amel ditangani baby sitter, malamnya baby sitter pulang , aku yang menangani Amel.
Sampai umur 5 tahun Amel diasuh oleh baby sitter. Sejak ia mulai sekolah , Amel kelihatannya mulai bisa mengurus dirinya sendiri dan dia menolak untuk diasuh baby sitter.
Jadilah kami berdua mengurus ruang kecil seluas 36 m2. Amel memanggilku Daddy. Meski agak repot setelah tidak ada baby sitter, tetapi kami lebih leluasa mengatur rumah sendiri.
Setelah 3 bulan ditinggal baby sitter kami mulai terbiasa mengurus sendiri. Amel bisa mempersiapkan diri untuk keperluan sekolahnya, dia juga bisa membuat sarapannya yang terdiri dari susu dan roti. Satu hal yang tidak mau dilakukan sendiri, yaitu mandi.
Sejak diasuh baby sitter, aku sekali-kali memang harus turun tangan memandikan Amel. Ini sejak dia kecil sampai sekarang. Mungkin karena terbiasa dan manja jadinya ya begitu. Lebih baik berangkat sekolah tidak mandi dari pada dia harus mandi sendiri pagi-pagi. Itulah sikap Amel. Padahal kamar mandi dilengkapi dengan air panas dan bath tub.
Sering kali aku berendam berdua di bath tub dengan air hangat. Amel senang sekali berada di pelukanku saat kami berendam.
Pengaruh air hangat dan kemaluanku terhimpit pantat Amel, sering kali penisku jadi menegang. Kalau sudah gitu kami bermain dengan aku menghimpitkan pantat Amel ke penisku. Kadang-kadang penisku menelusup diantara kedua pahanya. Kalau sudah spaning aku bermasturbasi menggunakan jepitan kedua paha Amel.
Amel menganggap permainan itu sebagai permainan biasa. Dia malah senang melonjak-lonjak di pangkuanku dengan badan penuh sabun dan jepitan pahanya jadi licin. Kalau sudah gitu aku bermain sampai aku berejakulasi.
Aku tidak tahu apakah seumuran Amel yang menjelang 6 tahun kegiatan seperti itu merangsang juga. Tapi dia menganggap permainan itu menyenangkan. Jadi setiap kali mandi selalu dia memainkan penisku dengan cara gitu. Tapi tidak setiap hari aku bisa berejakulasi, sehingga kadang-kadang berhenti karena capek terlalu lama bermain begitu.
Sejak aku kembali dari kunjungan ke Austria dan Tokyo, aku jadi punyai orientasi sex baru. Di Wina aku tertarik membeli beberapa majalah bergambar yang sebagian besar berisi foto anak-anak dibawah umur. Meskipun gambar-gambar itu hanya gambar telanjang, tetapi cukup menarik. Aku bosan dengan majalah porno seperti Playboy, Penthouse atau Hustler. Di Tokyo aku juga mendapatkan majalah ber gambar anak-anak di bawah umur. Bedanya bagian memeknya disensor. Mungkin pemerintah Jepang melarang gambar memek secara vulgar, meskipun memek anak kecil. Sejak itu aku mulai berburu di internet mengenai child sex. Aku sempat membeli password beberapa situs child sex dengan kartu kredit. Aku tidak menyangka ada dunia sex anak-anak. Bahkan di luar negeri hal itu sudah menjadi industri.
Sejak itu, aku mulai meraba-raba memek Amel saat kami mandi. Mulanya dia merasa geli. Tapi jika dilakukan lebih lama dia merasa enak dan kadang-kadang tubuhnya mengejang-ngejang.
Pada umur 6 tahun aku mulai terus terang melihat dan menguak memek Amel yang masih rapat dan dalamnya berwarna merah. Aku juga sering melakukan oral di bagian clitorisnya. Amel sering merasa senang dioral, meskipun kadang-kadang dia menolak karena geli. Tapi jika habis mandi dimana penisku sering menyenggol-nyenggol bagian memeknya, setelah itu kami mengeringkan badan, kalau memeknya aku jilati Amel tidak merasa terlalu geli. Dia bahkan mengejang-ngejang jika clitorisnya di jilat.
Ada kalanya malam-malam Amel tidur memelukku erat-erat sambil menempelkan memeknya yang masih tertutup pakaian ke pahaku. Dia menggerak-gerakkan pinggulnya seperti gerakan orang bersetubuh.
Kalau sudah gitu,kubuka celananya, memeknya memang sudah agak basah. Jika langsung aku oral Amel tidak merasa geli. Dia mengejang-ngejang nikmat. Kadang-kadang dia bersuara mengerang pelan dan nafasnya memburu.
Menjelang usia 7 tahun Amel sudah mulai mempunyai naluri sex bahkan sudah tumbuh keinginan sexnya.
Aku menandai jika dia lagi berhasrat, dia memegangi penisku dari balik celana. Kalau aku diamkan dia lepas sendiri celanaku lalu dia mulai mengoral. Amel memang sudah kuajari mengoral sejak dia berumur 6 tahun.
Dioral oleh mulut kecil memang tidak terlalu nikmat, tetapi kalau sudah birahi tinggi aku bisa berejakulasi juga. Aku sering menyemprotkan maniku ke mulut Amel. Dia tidak terlalu suka dengan air mani, sehingga bagian yang masuk ke mulutnya dia muntahkan ke tissu. Tapi dia tidak jijik.
Kepada Amel tidak pernah kutunjukkan gambar-gambar porno apalagi film atau gambar orang sedang berhubungan badan. Meskipun kedengarannya aneh, tetapi aku memang ingin menyembunyikan hal yang seperti itu.
Kegiatan sex kami mulai meningkat setelah Amel mencapai usia 7 tahun dimana dia mulai bersiap-siap naik ke kelas 2 SD. Aku mulai mencoba menusuk-nusukkan kepala penisku ke memek Amel. Usaha itu tidak pernah berhasil, karena memek Amel terlalu kecil bagi penisku yang berukuran lelaki normal dewasa.. Tapi kegiatan menempel-nempelkan ujung penisku ke memeknya membuat rangsangan yang kurasakan lebih nikmat sambil aku beronani. Mani kusemprotkan di belahan memeknya sampai meleleh.
Kalau sudah birahi terlalu tinggi sering kali pikiran normal jadi abnormal. Kalau sudah begitu aku tidak sekedar menempelkan ujung penisku, tetapi cairan jelly kulumurkan ke seluruh belahan memeknya dan penisku. Aku mencoba-coba menekan sampai agak tenggelam sedikit. Itu saja rasanya sudah nikmat dan bisa mempercepat datangnya ejakulasi.
Mungkin kerena terlalu sering memek Amel kusodok, maka sekarang kepala penisku bisa masuk ke belahan memeknya. Tapi kalau kuteruskan Amel menjerit kesakitan. Aku bisa juga terpuaskan hanya dengan menenggelamkan kepala penisku.
Sejalan dengan waktu, dan bertambahnya usia Amel serta terbiasanya permainan kami, belum genap dia berusia 8 tahun, perawannya sudah berhasil aku pecahkan. Pemecahan itu pun bukan hal gampang karena merupakan proses yang cukup lama dan ketika permukaan memek Amel sudah bisa beradaptasi dengan kepala penisku, maka lancarnya kepala penisku masuk ke memeknya lama-lama masuk makin dalam sampai akhirnya mencapai batas selaput perawannya. Sodokan sampai ke batas selaput itu pun tidak langsung menjebol, tetapi mungkin lebih dari sebulan aku bermain sampai batas selaput daranya. Setelah dia tidak merasa sakit barulah pelan-pelan dan hati-hati aku menekan lebih kuat untuk masuk. Amel sempat menjerit ketika selaputnya jebol. Darah agak banyak keluar. Memeknya masih belum siap menerima penetrasi, tetapi karena dipaksakan dan dibiasakan lama-lama lubangnya jadi membesar. Namun selaput daranya masih terlalu kencang ditembus, sehingga ketika dipaksa jeblos, Amel kesakitan.
Rasa sakit di memek Amel berangsur-angsur sembuh dan kini penisku bisa lebih jauh masuk ke dalam memeknya. Amel tetap masih merasakan sakit, sehingga penisku hanya bisa separuh terbenam di lubang memeknya. Aku tidak mau memaksakan untuk membenamkan seluruhnya, karena memek seusia 8 tahun memang belum siap untuk dientot.
Meskipun kalau dientot Amel sepertinya tidak bisa mencapai orgasme, tetapi dia menyukai permainan itu. Sementara aku merasakan sensasi memek sempit setiap kali aku melakukan hubungan badan. Aku selalu menggunakan jelly untuk membantu penetrasi, meskipun memek Amel sudah jebol perawannya.
Seingatku penisku baru bisa tengelam seluruhnya di memek Amel setelah dia berusia hampir 9 tahun. Ketika penisku bisa terbenam seluruhnya, aku merasakan sensasi nikmat yang luar biasa. Memek anak seusia 9 tahun selalu dalam keadaan sempit dan menjepit penisku. Oleh karena itu sejak itu aku tidak pernah lagi tertarik berhubungan dengan wanita lain, karena cukup kenyang berhubungan dengan Amel. Jika hari libur kami sebarian kerjanya hanya ngentot, makan dan tidur. Sehari semalam aku bisa melakukan sampai 12 kali. Jika sudah terlalu banyak begitu, pada hari senin aku sering kelelahan bekerja dikantor dan sama sekali tidak ada gairah. Bisa-bisa seharian penisku tidak bisa menegang.
Pada usia 10 tahun, tanda-tanda pertumbuhan kewanitaannya mulai terlihat. Tetek Amel mulai membengkak. Aku tidak mau kehilangan moment, Setiap 2 minggu sekali aku mengambil fotonya untuk merekam perkembangan seluruh tubuhnya. Pada usia 11 tahun Amel sudah membutuhkan mini set, karena kalau hanya dibalut kaus singlet dan seragam sekolah, bagian puting susunya menonjol dan samar-samar membayang warna hitam.
Aku semakin tidak memikirkan untuk beristri, karena apa yang aku butuhkan dari seorang perempuan sudah bisa dipenuhi Amel sepenuhnya. Bukan itu saja tetapi ada 3 orang teman Amel yang baru kelas 6 sudah tertarik untuk mencoba pengalaman sex. Amel membawanya ke aku dan mereka aku cumbui sampai akhirnya kudapatkan perawannya. Memang mereka tidak datang sekaligus, tetapi satu persatu dalam waktu yang cukup lama.
Kebiasaan Amel memperkenalkan sex berlanjut ketika dia mulai masuk jenjang SMP. Pada kelas 1 SMP Amel sudah menjelma menjadi gadis kecil yang cantik dengan ukuran payudara yang cukup besar untuk anak seusia 12 tahun. Beberapa teman-temannya diajak Amel ke kediaman kami dan kepada mereka kuajarkan pengalaman sex sampai akhirnya mereka merasakan kenikmatan dan melepas perawannya. Sejak Amel mendapatkan haidnya pada usia 12 tahun, aku mulai berhati-hati dalam melakukan hubungan. Aku tentu saja khawatir dia bisa hamil.
Pada usia 14 tahun Amel sudah menjadi Gadis yang cantik dan sexy, dia tidak kalah menarik dan montok dibanding anak usia 18 tahun, padahal usia nya masih sangat dini. Amel sudah seperti menjadi istriku. Kami di rumah selalu nudis dan melakukan hubungan sex sesuka kami di mana pun di sudut rumah, Pada usia 15 tahun Amel sudah mengenakan spiral. Sejak saat itu aku bebas melepaskan spermaku ke dalam memeknya.
Sampai dia kuliah dia masih juga membawa teman-temannya yang ingin mendapatkan pengalaman sex, tetapi belum punya kesempatan mendapat pacar.
Aku sudah tidak ingat berapa jumlah temannya yang keperawanannya diserahkan kepadaku. Aku pernah semalaman bermain melawan 3 cewek termasuk Amel. Aku terpaksa dopping dengan obat kuat. Itu aku alami ketika Amel baru lulus SMA.
Kehidupan sex ku bersama Amel memang luar biasa. Aku tidak tahu apakah karena sejak dini dia sudah kuperkenalkan sex, atau memang Amel mempunyai hasrat sex yang diatas rata-rata atau karena keduanya.
Ketika cerita ini kutulis, Amel sudah mempunyai dua anak gadis kecil dan tinggal di New Castle, Inggris. Kami berbeda jarak cukup jauh, sehingga aku tidak tahu bagaimana kehidupan sex keluarganya. Mungkin kalau tahun depan dia pulang ke Indonesia aku bisa bertanya. ***

Itulah info paling heboh seputaran artis indonesia Cerita Sex Amel Alvi Artis Indonesia paling hot
Sexy Girls, Download Video Scandal SEX, Video Porn, Sexy Video, Sexy Girl, Video HOT, Video Porno, JAV, JAV HD, Streaming Movie Porn, videoporno, Video Sexy, Film xxx, XXX Film Adult, Video Porno, Video Hot, Video Bokeb, Download JAV,film xxx, video sexy, sexy video, dvd xxx, film prono, filme xxx, videosporno, video x

Jumat, 19 September 2014

Cerita Sex Artis Akibat Obat Perangsang

Akibat Obat Perangsang - Cuaca cukup cerah di Senin malam itu. Kumala, Ricky, Wawan dan Zulfikri sedang makan malam bersama. Ricky, Wawan dan Zulfikri adalah rekan sekerja Kumala di kantor. Dan kebetulan mereka berempat dikirim oleh kantor pusat ke suatu pulau untuk tugas dinas.

Sejak hari pertama mereka tiba di sana, Ricky sudah sering mengolok-olok Kumala. Malam itu tidaklah berbeda. Ricky menantang Kumala untuk menyicipi minuman tradisional khusus daerah sana. Seperti biasanya, Kumala tidak

menghiraukan Ricky. Namun karena terus menerus diolok-olok oleh ketiga pria tersebut, Kumala akhirnya menyetujui untuk mencoba minuman itu (hanya agar mereka berhenti mengolok-olok dirinya).

Kumala memanggil pelayan untuk memesan minuman itu dan setelah menunggu kurang lebih lima menit, minuman tersebut sudah diantar ke hadapan Kumala. Minuman tersebut sama sekali tidak terlihat spesial/khas. Kumala memperhatikan minuman itu dan tidak menemui adanya 'keanehan' dan lebih menyerupai teh encer.

Tidak melihat keanehan apa-apa pada minuman itu, Kumala menegaknya perlahan-lahan. Rasa manis dan menyegarkan membasuh mulut dan tenggorokan Kumala. Saat hampir habis minuman itu diteguknya, Kumala mencoba untuk mengingat-ingat dimana ia pernah merasakan minuman seperti ini sebelumnya. Namun ia tidak berhasil mengingatnya.

"Jadi bagaimana minumannya? Enak, kan?" tanya Ricky dengan senyum licik. Wawan dan Zulfikri pun menyeringai.

Kumala menepis semua pemikiran negatif dalam benaknya, walau sebenarnya hatinya sempat mencelos saat ia sadar bahwa ia baru saja minum minuman yang terbuka. "Toh minuman ini dibawa dari dapur langsung oleh si pelayan," pikirnya lagi, jadi tidak mungkin ketiga pria ini menyabotase minuman tersebut.

Sepuluh menit setelah itu, mereka berempat kembali ke ruang training untuk melanjutkan proyek pekerjaan mereka di pulau tersebut. Kumala seperti biasa meluangkan waktunya untuk chatting dengan Wira di sela-sela waktu kerjanya. Dan malam itu semangat Kumala terasa lebih tinggi daripada hari-hari biasanya. Mungkin karena tadi ia menyempatkan diri untuk tidur siang, pikirnya.

Detik berganti detik, menit berganti menit tanpa terasa. Perbincangan dengan Wira semakin 'memanas' dan jantung Kumala mulai berdebar-debar.

Lalu Ricky bangkit berdiri dan menyuruh para manager dan peserta training untuk meninggalkan ruangan itu. Tidak biasanya Ricky menyudahi session lebih awal, terlebih lagi menyuruh para peserta untuk meninggalkan ruangan seperti ini. Walau merasa aneh atas perbuatan Ricky, Kumala tidak berniat untuk menggubrisnya karena saat itu ia sedang asyik-asyiknya chatting dengan Wira.

Setelah semua peserta, kecuali Wawan dan Zulfikri, meninggalkan ruangan tersebut, Ricky beranjak dari kursinya dan menghampiri Kumala. Dengan sigap Kumala cepat-cepat menutupi window percakapannya dengan Wira dengan window lainnya.

Ricky terkekeh melihat reaksi Kumala yang mencibir dengan tatapan kesal. Ricky tidak perduli atas reaksi Kumala karena sebenarnya ia hanya ingin mengalihkan perhatian Kumala. Saat perhatiannya tertumpu pada Ricky, Wawan bergerak tanpa bersuara dan mengunci pintu ruang training tersebut. Kumala sama sekali tidak menyadari akan semua ini.

Dengan langkah santai, Ricky (dan Wawan) kembali ke kursinya. Kumala melirik dengan ekor matanya, mengikuti gerakan Ricky sampai ia duduk di kursi. Lalu Kumala melanjutkan chatnya dengan Wira.

Ricky membuka suaranya, memulai perbincangan dengan topik yang tidak jelas. Sampai pada akhirnya ia mulai menanyakan Kumala mengenai minuman yang ia minum tadi.

Bagaimana rasanya? Apakah ia menyukainya? Pernahkah ia minum minuman yang rasanya seperti itu sebelumnya? Apa yang ia rasakan setelah minum minuman itu? Dan sebagainya.

Lalu pertanyaan Ricky semakin terperinci, "Apakah jantungmu terasa berdebar-debar sekarang?"

Kumala tersentak. Bagaimana ia bisa tahu hal ini... paling-paling hanya kebetulan, pikirnya. Lalu ia menjawab, "Detak jantungku biasa aja tuh!" tidak ingin memberikan jawaban yang diinginkan oleh Ricky.

"Masa sih kamu ga berasa?" tanyanya lagi.

Semakin ditanya, Kumala malah semakin merasakan detak jantungnya berdebar-debar. Ia menjadi kian gelisah.

Tidak menunggu jawaban dari Kumala, Ricky melanjutkan rentetan pertanyaannya. "Apakah kamu merasa tubuhmu panas? ... Hot?"

"Nggak," jawab Kumala singkat.

"Ah, ga perlu bohong, Mala. Mungkin kamu belum menyadarinya aja."

Saat itu sebenarnya Kumala memang tidak merasa tubuhnya menjadi panas, namun karena mendapat pertanyaan seperti itu otaknya menjadi semakin peka atas perubahan suhu tubuhnya walau perubahan suhunya sangatlah kecil.

Dan benar saja, Kumala sudah dapat merasakan naiknya temperatur di bagian punggung dan dada atasnya. "Asem! Mengapa tebakan-tebakannya tepat semua? Jangan-jangan minuman itu...," Kumala tidak berani menyelesaikan pemikirannya.

Dengan hati yang semakin cemas, Kumala melirik ke Wawan, Zulfikri lalu kembali ke Ricky. "Apa yang kalian taruh di minumanku?" tanya Kumala dengan nada memerintah.

"Hahahaha! Masa sih kamu nggak tahu?" akhirnya Zulfikri membuka suaranya.

"Setelah sekian lama kamu bergaul dengan kita-kita, masa kamu ndak belajar apa-apa dari semua perbincangan kita?" Wawan menambahkan.

Ricky bergerak menghampiri Kumala yang terduduk kaku. Jantung Kumala seakan disiram air es dan berhenti berdetak. Lalu Ricky mendekatkan wajahnya ke samping telinga Kumala dan berbisik, "Kamu itu wanita yang pintar, jadi kamu seharusnya udah bisa nebak apa yang kamu minum tadi, honey."

Mata Kumala membesar, wajahnya memucat walau wajahnya terasa panas. Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Berawal dari gerakan yang tak terlihat, Kumala menggeleng-gelengkan kepalanya dari bahu ke bahu.

"Nggak! Nggak mungkin! Kalian bohong! Aku ga lihat kalian memasukkan apa-apa ke dalam minumanku!" bantah Kumala dengan suara parau.

"Dasar denial! Emang! Kami ga masukin apa-apa," Ricky tidak mencoba membantah, "tapi kamu ga akan nyangka betapa mudahnya pekerja hotel ini mengabulkan permintaan khusus cuma dengan imbalan ekstra yang setimpal."

Pikiran Kumala segera menelusuri pekerja-pekerja hotel yang mungkin mau saja diperalat oleh para cecunguk ini. "Si pelayan? Hmmm.... mungkin aja sih. Atau si chef muda yang diam-diam sering melirik aku?" benak Kumala.

Pikiran Kumala terhenti oleh pertanyaan Ricky, "Bagaimana? Kamu udah merasakan efek-efek lainnya? Putingmu udah menegang? Vaginamu udah basah?"

Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, secara refleks Kumala menarik masuk dadanya berharap puting susunya tidak terjiplak menonjol pada baju yang ia kenakan. Namun karena begitu cemasnya, Kumala malahan tanpa sadar menanti-nanti efek tersebut timbul pada tubuhnya. Hatinya sedikit lega karena setidaknya ia sama sekali tidak merasa terangsang dan efek-efek yang Ricky sebutkan tadi belum muncul juga sampai saat itu.

"Moga-moga obat perangsang yang aku minum ga bereaksi secara optimal atas tubuhku deh," Kumala mencoba untuk menghibur dirinya sendiri.

Sedang otaknya sibuk berpikir, Kumala tidak menyadari Ricky sudah memberi isyarat kepada Wawan dan Zulfikri untuk berdiri di belakang kiri dan kanan Kumala. Dengan satu anggukan kecil Ricky, Wawan dan Zulfikri secepat kilat mengamankan Kumala.

Mereka berdua masing-masing memegang lengan dan pundak Kumala dengan erat. Kumala terkejut dan langsung berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman Wawan dan Zulfikri. Ia dapat menebak apa yang hendak mereka perbuat atas dirinya. Dengan penuh ketakutan Kumala menghentakkan kakinya agar dapat bangkit dari tempat duduknya. Wawan dan Zulfikri memberi tekanan yang kuat pada pundaknya sehingga usaha Kumala jadi sia-sia. Kumala menggoyang-goyangkan seluruh tubuh bagian atasnya sejadi-jadinya, berharap setidaknya pegangan salah satu dari mereka menjadi longgar.

BREETT! Kumala melihat Ricky membuang sobekan baju ke lantai. Ya, baju atasnya sudah terkoyak sehingga payudara Kumala yang masih terbungkus BH dapat terlihat dengan jelas. Ricky lanjut mencabik-cabik sisa kaos Kumala seperti kerasukan setan.

"STOOOOOP! Please stop, Ricky!" teriak Kumala sekuat tenaga.

Ricky berhenti lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap mata Kumala.

Kumala sempat kaget mendapati Ricky menuruti perintahnya. Lalu dengan mata berlinang air mata, Kumala memohon, "Please, Ricky. Lepasin aku sekarang juga. Aku ga akan laporin kejadian ini ke kak Joko. Aku ga akan ngadu hal ini ke siapa-siapa deh, termasuk Wira. Aku mohon, lepasin aku."

Ricky mundur satu langkah. Lalu Ricky melayangkan pandangannya ke Wawan lalu berpindah ke Zulfikri seakan hendak meminta persetujuan mereka berdua.

Kumala mengikuti pandangan Ricky untuk melihat respon dari mereka berdua. Ia mendapati Wawan dan Zulfikri sedang memandang matanya dalam-dalam. Setelah beberapa saat, Kumala menyadari bahwa Wawan dan Zulfikri ternyata bukanlah sedang menatap matanya. Pandangan mereka yang penuh birahi melekat pada belahan bukit dada Kumala yang putih mulus itu.

Mengetahui apa yang sebentar lagi bakal terjadi atas dirinya, air mata Kumala semakin deras mengalir. Senyum Ricky tersungging menghias wajahnya yang penuh percaya diri. Lalu ia menghampiri wajah Kumala dekat-dekat sehingga Kumala dapat merasakan nafas Ricky yang sudah menderu di wajahnya.

"Aku harap kamu suka tantangan, Mala. Jadi gini... Aku akan lepasin kamu kalo kamu bisa lolos tantangan yang aku kasih."

"Aku akan membiarkan kamu selama 5 menit. Aku ga akan sentuh kamu selama itu. Dan setelah 5 menit berlalu, aku akan cek 2 hal. Kalo setelah 5 menit itu ternyata puting kamu ga mengeras dan vagina kamu ga basah, aku akan lepasin kamu tanpa embel-embel ini itu."

"Tapi... kalo puting kamu mengeras dan vagina kamu basah," Ricky berhenti sejenak sebelum meneruskan kalimatnya, "Hahahaha... Kita akan berpesta pora rame-rame!"

"Asoooy!"

"Mantaaaaaap!"

Seperti mendapat durian runtuh, Wawan dan Zulfikri bersorak sorai kegirangan.

Kumala berpikir keras dalam otaknya, "Udah pasti aku ga punya hak apa-apa untuk bernegosiasi sama Ricky. Aku cuma bisa berharap untuk lolos dari tantangan ini dan berharap Ricky benar-benar menepati janjinya untuk lepasin aku. Ga ada pilihan lain. Untungnya saat ini aku belum merasakan sepenuhnya efek dari obat perangsang wanita yang mereka kasih. Jadi, semakin cepat tantangan ini dimulai, semakin baik. Uhhh... moga-moga dalam 5 menit ke depan, obat perangsangnya ga sempat bereaksi pada payudara dan vaginaku deh."

"Baik! Tapi kamu harus pegang janjimu, OK?"

"Of course! Aku selalu pegang janji-janjiku. Kamu ga usah khawatir," sanggah Ricky.

Dengan santai Ricky menggeser meja tempat Kumala menggunakan laptopnya ke samping sehingga tidak ada barang yang menghalangi di antara Kumala dan Ricky. Ia bahkan menyempatkan dirinya untuk melirik ke layar laptop Kumala dan melihat percakapannya dengan Wira yang terganggu. Terlihat Wira berkali-kali memanggil Kumala via chat.

Ricky terkekeh lalu menyeret kursinya sehingga ia duduk berhadap-hadapan dengan Kumala yang masih diamankan oleh Wawan dan Zulfikri.

"Tantangannya udah mulai belum sih? Kenapa Wawan dan Zul masih pegangin tanganku nih?" tanya Kumala, tidak sabar melihat Ricky yang sengaja mengulur-ulur waktu. Kumala yakin Ricky tahu bahwa belum cukup waktu buat obat perangsang tersebut untuk bereaksi secara optimal pada tubuhnya. Setiap menit yang terbuang memperbesar kemungkinan tubuhnya menjadi terangsang.

"Belum, honey. Aku perlu kepastian kalo kamu ga bakalan kabur dari tempat ini. Dan kepastian tersebut cuma bisa aku dapat kalo Wawan dan Zulfikri tetap pegangin kamu."

"Tenang aja, Mala. Kita bertiga akan bersikap fair kok. Walau Wawan dan Zul pegangin tangan dan pundakmu, tangan-tangan mereka ga akan grepe-grepe kamu deh," tambah Ricky.

"Jadi kapan kamu mau mulai tantangan ini?" Kumala bertanya dengan suara setengah berteriak.

"Sabar, sabar, my darling Kumala. Aku perlu cari jam tanganku dulu, nih. Aku ga inget aku taruh dimana," jawab Ricky sambil menahan tawanya.

Mulut Kumala mengatup rapat karena geram. Harapannya sedikit demi sedikit mulai berkurang lantaran terlihatnya kecurangan terselubung yang mereka praktekkan. Mata Kumala mengikuti kemana Ricky bergerak. Ricky bangkit berdiri dan terlihat sibuk mencari-cari dimana gerangan jam tangannya.

Detik demi detik berlalu. Menit berganti menit. Walau tubuh bagian atasnya hanya ditutupi oleh BH berwarna krem, namun butir-butir keringat tetap merembes keluar dari kening dan dahi Kumala. Jantungnya pun masih berdetak dengan cepat. Kumala semakin resah menunggu reaksi obat perangsang yang mungkin sewaktu-waktu memercik birahi tubuhnya.

Lalu Kumala teringat kalau bukan hanya Ricky yang selalu mengenakan jam tangan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat pergelangan tangan Wawan dan Zulfikri.

Yes! Zulfikri mengenakan jam tangan. Kumala segera berseru, "Ricky! Tuh pakai aja jam tangan Zul."

Ricky berpura-pura terkejut dan baru menyadari bahwa Zulfikri pun mengenakan jam tangan. "Oh benar juga yah. Kenapa kamu ga ngomong dari tadi, Zul?"

Ricky melangkah mendekati mereka. Masih dengan gerakan yang santai, Ricky melepaskan jam tangan Zulfikri.

Tiba-tiba jam tangan itu terjatuh dan mengenai dada Kumala. Ricky berusaha menangkap jam tangan yang terjatuh itu. Dan dengan gerakan yang ceroboh, Ricky 'tanpa sengaja' membelai bukit kenyal Kumala dengan punggung tangannya.

"Oops, maaf. Aku ga sengaja lho sentuh payudaramu," penjelasan Ricky terasa hambar apalagi ditambah senyum yang semakin melebar.

"Ayo, cepat mulai dihitung 5 menit tantangan ini!" Kumala dengan setengah hati mengacuhkan sentuhan tangan Ricky pada payudaranya.

Kait pada jam tersebut tersangkut pada bagian depan BH Kumala. Kumala benar-benar tidak habis pikir bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi.

Ricky menarik ke atas jam tangan yang masih tersangkut di BH Kumala sehingga seluruh bagian depan BH itu terangkat naik. Kedua puting susu Kumala terekspos di hadapan ketiga pria itu. Wawan dan Zulfikri mungkin tidak dapat melihat dengan jelas pemandangan indah itu namun dilihat dari raut wajah Ricky, Kumala yakin bahwa Ricky sangat menyukai apa yang ia lihat di hadapannya.

Mata Ricky melotot dan berbinar-binar. Kedua alisnya terangkat tinggi-tinggi. Bibirnya terbuka menghiasi senyumnya yang lebar. Dadanya kembang kempis seiring dengan nafasnya yang terdengar semakin berat.

Tanpa sadar Kumala melirik ke selangkangan Ricky. Jantung Kumala seakan berhenti berdegup ketika ia melihat tonjolan besar di celana Ricky. Wajah Kumala bersemu semakin merah saat dirinya secara refleks memvisualisasi penis Ricky yang sudah keras berereksi di balik tonjolan besar itu. Jika tadi jantungnya serasa berhenti berdetak, kini jantung Kumala serasa berdetak dua kali lebih cepat.

Langsung Kumala memalingkan wajahnya ke lantai dekat kakinya. Walaupun merasa jijik karena membayangkan penis Ricky, Kumala merasakan api birahinya mulai memercik. "Oh, tidak! Jangan, please. Tahan sebentar lagi! Jangan sekarang!" serunya dalam hati.

"Oho! Kamu kaget yah lihat 'peralatanku'? Apakah batangku lebih besar dari batang Wira? Kamu pernah lihat penis dia kan? Atau... jangan-jangan kamu belum pernah sama sekali melihat penis seorang lelaki?"

Pertanyaan demi pertanyaan membuat kepala Kumala semakin menunduk malu. Ia tidak berani menatap Ricky lalu memutuskan untuk menutup matanya erat-erat sambil berharap agar bayangan penis Ricky dapat hilang dari benaknya.

Selagi berusaha mengalihkan pikirannya ke hal-hal lain sambil menutup kedua matanya, Kumala tersadar oleh suara tawa geli Wawan dan Zulfikri. Berkat rasa ingin tahunya yang begitu besar akhirnya Kumala memutuskan untuk membuka matanya untuk melihat apa yang membuat mereka cekikikan.

Bola mata Kumala seperti hendak keluar dari tempatnya saat ia melihat Ricky berdiri di hadapannya dalam keadaan telanjang bulat. Kursi Ricky sudah bergeser ke pinggir ruangan. Penisnya yang tebal dan kekar terlihat sangat besar dan begitu kontras dibanding dengan perawakannya yang pendek. Pandangan Kumala menempel lekat-lekat pada batang kejantanan Ricky. Mulut Kumala masih menganga saat Ricky mengangkat suaranya.

"Gimana, Mala? Takjub? Penis ini udah membuat banyak wanita bergelinjang penuh kenikmatan. Hahahaha!" tawa Ricky memenuhi ruang training itu. Lalu ia melanjutkan, "Ga usah kuatir. Sehabis 5 menit tantangan ini, kamu pun bisa menikmati batangku kok."

Terbangun dari lamunan Kumala mengatupkan mulutnya cepat-cepat dan berseru, "Ayo! Dimulai perhitungan jamnya! Lima menit, kan?"

Kali ini Ricky menuruti permintaan Kumala. Ia memencet-mencet jam tangan Zulfikri dan akhirnya berkata, "Ok! Lima menit... set... GO!"

Kumala tadi memang sempat mengira obat perangsang itu sudah bereaksi, namun sekarang ia yakin dirinya ternyata belum merasakan reaksi apa-apa. Walaupun demikian, jantungnya semakin kencang berdegup.

"Tiga puluh detik...," kata Ricky perlahan.

Peluh di kening Kumala menetes dan jatuh merembes ke kain celananya. Kumala merasa 30 detik berlalu dengan sangat lambat. Ia terus berharap obat perangsang itu tidak menimbulkan reaksi apa-apa. Kalaupun obat tersebut memang akhirnya menimbulkan reaksi, Kumala sangat berharap reaksi itu baru muncul setelah tantangan ini berakhir.

Sambil memegang jam tangan Zulfikri di tangan kirinya, Ricky menghampiri Kumala. Penisnya mengangguk-angguk seirama dengan langkah kaki Ricky. Kumala mengalihkan pandangannya ke samping namun melalui ekor matanya ia masih dapat melihat batang kemaluan Ricky. Akhirnya Kumala menutup kedua matanya.

"Satu menit udah lewat!"

Masih belum ada tanda-tanda reaksi dari obat perangsang itu pada diri Kumala. Namun tidak lama setelah itu, Kumala merasakan Ricky sedang melakukan sesuatu di dekatnya. Tubuhnya sama sekali tidak disentuh oleh Ricky, tapi Kumala dapat merasakan Ricky dari pergerakan udara di sekitarnya.

Sedang serius-seriusnya berkonsentrasi, Kumala tiba-tiba merasakan semilir angin berhembus mengenai puting kirinya. Ia mencoba untuk mengacuhkannya namun makin lama hembusan lembut itu semakin kuat.

Lalu tiba-tiba saja hembusan itu terhenti dan berganti dengan hawa hangat yang menyelimuti puting dan daerah sekitarnya. Kumala merasakan hawa hangat itu seakan menari-nari dengan liar di putingnya. Tak dapat menahan rasa ingin tahunya, Kumala segera membuka matanya dan melihat dari mana sumber tarian hawa hangat tersebut.

Mulut Ricky terbuka lebar di depan payudara kiri Kumala dan lidahnya bergetar naik turun dengan cepat seperti gerakan mengipas. Lidah Ricky sama sekali tidak menyentuh putingnya, akan tetapi Kumala dapat merasakan tiap jilatan dari angin yang tercipta oleh gerakan lidah Ricky pada putingnya.

"Hey! Ga boleh gitu dong!" seru Kumala tanpa berpikir panjang.

Ricky mendongak lalu mengatupkan mulutnya. "Kenapa? Aku ga nyentuh tubuhmu sama sekali, kan?" dalih Ricky.

Kumala membuka mulutnya untuk menyanggah namun otaknya tidak dapat menemukan kata-kata untuk ia ucapkan.

"Emangnya kenapa? Lidahku ga bikin kamu terangsang, kan?" kata Ricky sebelum memperagakan gerakan lidahnya lagi kepada Kumala.

Kumala memalingkan wajahnya ke kanan dan tetap diam seribu bahasa. Ricky mengikuti arah wajah Kumala dengan membungkuk di depan payudara kanan Kumala. Ia sengaja memilih payudara ini karena ingin Kumala melihat wajahnya. Ia kembali menggunakan lidahnya untuk menjilati udara di dekat puting itu.

Kumala setengah terpaksa melihat perbuatan Ricky ini. Di satu sisi ia tidak ingin melihat perbuatan jijik ini namun di sisi lain ia juga ingin memastikan bahwa Ricky tidak berbuat curang.

Kumala dapat melihat lidah Ricky meliuk-liuk dengan kecepatan yang tak menentu. Kadang lidahnya bergerak dengan cepat, kadang bergerak dengan sangat lambat. Namun satu hal yang pasti, lidah Ricky sering mencapai jarak yang sangat dekat dari putingnya. Ya, Ricky selalu berhasil membuat lidahnya hampir bersentuhan dengan puting Kumala.

Sementara matanya tertumpu pada permainan lidah Ricky pada putingnya, Kumala tiba-tiba merasakan obat perangsang itu mulai bereaksi lagi pada tubuhnya. Energi birahi dalam tubuhnya mulai menggeliat keluar dari daerah sekitar payudaranya, perlahan namun pasti.

"Oh, please, jangan!" hatinya menjerit.

Dan benar saja, puting kanannya mulai membesar, tonjolan itu semakin keluar lalu mulai mengeras. Kumala cepat-cepat memikirkan hal-hal lain yang dapat mengalihkan perhatiannya dari birahi akibat obat perangsang yang ia minum. Dan ia teringat, "Eh! Udah berapa menit nih?"

Sambil terus meliuk-liukkan lidahnya, ia tidak menjawab pertanyaan itu. Ricky melirik ke wajah Kumala. Beberapa detik kemudian Ricky menghentikan apa yang ia lakukan dan berkata, "Kenapa kamu tiba-tiba mau tau? Jangan-jangan..."

Senyum lebar menghias wajah Ricky saat ia mendapati puting kanan Kumala sudah berdiri tegang. "Aha! Satu puting selesai, tinggal satu puting lagi!" Ia berpindah ke puting kiri Kumala lalu membungkuk untuk memulai.

"Berapa menit lagi? Ayo kasih tahu aku!" pinta Kumala dengan nada memerintah.

"Oh iya, aku sampai lupa lihat jam."

Ricky memperhatikan jam Zulfikri beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Masih sekitar 3 menit lagi kok."

Tidak butuh waktu lama untuk puting kiri Kumala mengeras dan berdiri tegak. Bayangan lidah Ricky yang nyaris menjilat-jilat putingnya laksana bensin pada api birahinya. Ricky yang sudah berpengalaman dengan wanita dapat menduga hal ini dengan mudah.

"Stop! Kamu curang! Ga boleh gitu dong!" protes Kumala.

"Aku ga pernah bilang kalo aku ga boleh melakukan apapun di depanmu, kan? Selama aku ga nyentuh kamu, aku ga langgar syarat yang aku berikan tuh."

"Dua putingmu udah gagal dan yang tersisa cuma tinggal vaginamu," Ricky berkata penuh bangga. "Ok lah, aku ga akan pakai trik lidahku pada vaginamu. Tapi untuk itu, kamu ga boleh pakai celana sama sekali."

Setelah mendapat isyarat dari Ricky, Wawan mengambil alih lengan Kumala yang dipegang oleh Zulfikri. Lalu tanpa melakukan banyak gerakan yang sia-sia, Zulfikri melucuti celana panjang beserta celana dalam Kumala dengan cepat. Walau meronta-ronta dan berteriak-teriak menyuruh Zulfikri untuk menghentikan perbuatannya, pada akhirnya Kumala hanya dapat menerima nasibnya harus bertelanjang di hadapan ketiga pria yang sudah dikuasai nafsu birahi ini.

"Masih ada 2 menit lagi," Ricky mengingatkan.

Obat perangsang wanita itu terus memberi reaksi pada kedua putingnya. Kedua puting susunya tetap keras dan berdiri tegak walau sudah tidak dirangsang oleh Ricky. Satu hal yang membuat diri Kumala agak lega adalah ia tidak merasakan efek apa-apa pada vaginanya.

Melihat ekspresi muka Kumala yang menjadi tenang, Ricky mendekatinya dan memperhatikan dengan seksama kedua puting Kumala. Satu persatu ia teliti dengan serius. Kumala merasa risih mendapati Ricky yang bertelanjang bulat berdiri hanya sejangkauan tangannya, memandangi payudaranya seperti itu.

Tanpa berkata apa-apa, Ricky mulai mengocok-ngocok batang penisnya yang sudah berereksi maksimal. Pertama-tama ia mengocoknya perlahan dan setelah beberapa waktu, kecepatan kocokannya menjadi bervariasi dan tidak menentu.

"Oooooohhhh...," terdengar lenguh panjang dari mulut Ricky. Kumala melirik sekilas namun pandangan matanya mau tidak mau melekat pada kepala penis Ricky yang baru saja mengeluarkan pre-cum, cairan bening yang berfungsi sebagai pelumas. Tanpa Kumala sadari, ia membasahi bibirnya sendiri dengan lidahnya lalu menelan ludah.

"Aseeem! Kenapa aku ini? Masa sih aku benar-benar jadi terangsang gara-gara melihat dia?" umpat Kumala dalam hati. "Lebih baik aku tutup rapat-rapat mataku dan pendengaranku. Ayo, alihkan pikiranmu ke hal-hal lain!"

Melihat Kumala menutup matanya rapat-rapat sementara dada Kumala mulai naik turun mengimbangi nafas yang mulai memberat, Ricky sudah dapat menebak apa yang sedang terjadi pada diri Kumala. Lalu Ricky menganggukan kepalanya, memberi isyarat kepada Wawan dan Zulfikri. Wawan menarik kedua tangan Kumala ke atas dan menyatukan keduanya di belakang kepalanya. Dengan celana panjang yang ia lucuti tadi, Zulfikri mengikat kedua tangan Kumala dengan cekatan.

Kumala terkejut dan membelalak. "Hei, apa-apaan ini?! Kalian ga akan berbuat curang, kan??"

"Tenang.... (hhh) ... Tantangan ini... (mmhhh) ... masih berlangsung... (hhhh) ... secara fair kok... (nnhhh) ...." jawab Ricky dengan nafas terengah-engah.

Melihat penis yang masih ia kocok-kocok tersebut sudah berubah menjadi merah gelap, Kumala spontan menutup matanya kembali. Kain celana panjang yang digunakan untuk mengikat tangan Kumala masih tersisa dan menjuntai panjang. Zulfikri menarik juntaian kain tersebut ke belakang lalu diikatkannya ke sandaran kursi tempat Kumala duduk. Hal ini menyebabkan kedua tangan Kumala tertarik ke belakang dan payudaranya terdorong ke luar.

"Ah!" pekik Kumala pelan. Posisi tubuhnya sangatlah tidak nyaman. Kedua tangan yang tertarik di belakang kepalanya menyebabkan kedua sikut Kumala menunjuk ke langit-langit, dada membusung, dan panggulnya tertekan ke bawah yang berarti... kemaluan Kumala menekan kuat ke permukaan kursi yang ia duduki.

"Duh, ga boleh gini nih! Kalo kemaluanku sampai bergesek-gesek dengan kursi ini dapat dipastikan aku bakalan jadi basah," pikir Kumala cepat. Oleh karena itu Kumala membuka kedua kakinya sehingga ia dapat mengangkat lalu memajukan pantatnya sampai ke ujung kursi. Setidaknya kini bibir vagina dan klitorisnya tidak bersentuhan dengan permukaan kursi lagi.

Melihat kesempatan ini, Zulfikri dan Wawan segera memegangi kedua paha Kumala agar ia tidak dapat menutup kedua pahanya kembali. Kumala tidak dapat berkutik lagi. Selangkangannya terpampang untuk mereka bertiga. Kumala dapat merasakan dinding-dinding vaginanya mulai meleleh perlahan-lahan. "Sialaaaaaan!" umpatnya dalam hati, "Moga-moga cairanku ga banyak dan ga sampai mengalir keluar."

Kini tantangan itu masuk ke menit terakhir. Ricky semakin mempercepat tangannya yang mengocok-ngocok batang kejantanannya yang kekar itu, sementara Kumala masih terus memejamkan matanya. "Ayo... (hhh) ... tidak perlu ... (hhh) ... malu-malu ... (hhh) ... untuk ... (hhh) ... melihat indahnya penisku! ... (mmmhh) ... Aku tahu ... (hhh) ... kamu pernah bayangin ... (ahhh) ... dalam fantasimu. ... (unhhh) ... Aku juga sering kok ... (ohhh) ... bayangin kamu ... (mhhh) ... dalam ... (aahhh)... fantasi-fantasi liarku."

Kumala tidak menggubris kata-kata Ricky. Vaginanya masih terlihat kering dan kelihatannya ia dapat menahan gejolak birahinya sampai saat ini. Mungkin saja Kumala dapat lolos dari tantangan ini.

"Ohhhh... Kumalaaaa... I love youuuuuu!"

Lalu tanpa ada tanda apa-apa, tubuh Ricky bergelinjang kuat. "Nnnnnnggggghhhh!" lenguh Ricky dengan kuat. Sperma tersembur kencang dari mulut penis Ricky, tersemprot jauh dan mendarat di pipi dan bibir Kumala.

"AWW!" pekik Kumala kaget merasakan lendir panas mengenai wajahnya. Ia membuka matanya dan melihat penis Ricky menyemburkan luapan-luapan lendir sperma panas ke tubuhnya. Dua semprotan pertama mengenai wajah dan dada Kumala, setelah itu diikuti oleh semprotan-semprotan yang lebih lemah ke perut dan paha Kumala. Dan satu gumpalan kental sperma Ricky yang terakhir melompat dan mendarat tepat di bagian atas kemaluan Kumala.

Ricky merasakan kakinya menjadi lemas sehingga ia harus berlutut untuk menopang berat badannya. Penisnya yang masih tegak berdiri dengan angkuhnya sesekali berkejut-kejut setelah baru saja melewati ejakulasi yang dahsyat. Batang itu terlihat mengkilap karena basah oleh cairan spermanya sendiri yang melimpah ruah.

Kumala masih menganga tidak percaya apa yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Selama beberapa detik mereka berempat tidak bersuara dan juga tidak banyak bergerak. Mereka seakan tercengang oleh kedahsyatan ejakulasi Ricky.

Akhirnya Kumala terbangun dari kekagetannya saat ia merasakan sperma Ricky meleleh turun dan akhirnya masuk ke celah bibir vaginanya. "OH, TIDAAAAK!" Mata Kumala terbelalak.

"STOP! STOP! Jangan sampai spermanya masuk! Lepasin aku! Cepaaat!" teriak Kumala sambil meronta-ronta sekuat tenaga.

Zulfikri dan Wawan tidak berniat untuk melepaskan paha Kumala. Mereka hanya saling berpandangan dan tersenyum nakal. Ricky yang masih berlutut, mengatur pernafasannya agar menjadi lebih teratur.

Lalu Ricky berdiri dan berkata, "Berarti kita udah tidak perlu lagi mengecek apakah vaginamu basah atau tidak, kan? Hahahaha...!"

"Sialaan! Kamu curang! Aku ga terima!"

"Lho? Perjanjiannya kan: aku akan melepaskan kamu kalo dalam waktu 5 menit, puting susumu tidak menjadi keras dan vaginamu tidak menjadi basah. Gitu, kan?" sanggah Ricky.

"Tapi...," Kumala hendak membantah namun akhirnya mengurungkan niatnya. Ia merasa tidak ada gunanya untuk berdebat dengan mereka. Pada kenyataannya, memang benar vaginanya kini menjadi basah oleh lelehan sperma Ricky. Selain bagian luarnya basah, Kumala sendiri pun sebenarnya merasakan dinding-dinding vaginanya sudah mengeluarkan cairan pelumas akibat efek dari obat perangsang yang ia minum.

"Ha! Berarti kita bisa berpesta pora! YAAAAAAY!" seru Ricky penuh kemenangan.

Ricky mengambil tissue dari kamar mandi lalu menyeka vagina Kumala yang berlumuran sperma. Kumala merinding saat merasakan sensasi gesekan tissue pada bibir kemaluannya. Setelah kering Ricky berjongkok di hadapan selangkangan Kumala.

Kumala merasakan bulu-bulu kemaluannya mengenai wajah Ricky. Hidung dan bibir Ricky hanya terpaut beberapa milimeter dari bibir vagina Kumala. Deru nafas Ricky keluar dari mulut dan hidungnya tidak menolong usaha Kumala untuk meredam nafsu birahinya.

"Hey! Ayo cepat! Buruan selesaiin semua ini! Aku ga mau berlama-lama kek ini!" bentak Kumala tak berdaya.

"Oho! Rupanya tuan putri udah nggak sabar pengen diservis nih?" ejek Zulfikri.

"Asyiiiik. Kita pun ndak perlu sungkan-sungkan lagi kalo gitu!" tambah Wawan.

Wawan dan Zulfikri menanggalkan pakaian mereka satu per satu. Baju, celana dan pakaian dalam semua mereka tanggalkan dalam waktu kurang dari satu menit. Ternyata penis mereka berdua pun sudah berereksi penuh.

Kumala melihat penis Zulfikri; agak pendek, tidak sepanjang penis Ricky namun jauh lebih tebal dari penis Ricky. Otot-otot pada batang kemaluan Zulfikri terlihat sangat kekar dan keras. Lalu Kumala menoleh ke Wawan. Penis Wawan yang paling kecil dari mereka bertiga. Pendek, ramping dan sedikit bengkok. Mirip dengan penis Wira, pikir Kumala tanpa sadar.

Mendapati ketiga pria ini jadi terangsang karena dirinya membuat kemaluan Kumala meleleh dalam seketika. Aliran darah pada dinding vaginanya terasa deras mengalir dan memperlancar mengalirnya cairan cinta keluar dari bibir kemaluannya.

Ricky dengan mudah dapat melihat betapa terangsangnya Kumala. Nafas yang memburu, dada yang naik turun dengan puting sekeras penghapus pensil, pipi dan leher yang merona merah, dan cairan cinta yang merembes keluar dari bibir kemaluan, Kumala tidak dapat lari dari kenyataan bahwa dirinya sudah benar-benar sangat terangsang.

Tanpa membuang waktu, Ricky menuntun ujung kepala penisnya yang besar itu menyelinap masuk ke celah bibir vagina Kumala. Walau hanya sebagian kecil kepala penis yang masuk, namun mulut vagina Kumala sudah terasa penuh sesak. Zulfikri dan Wawan sibuk menggerayangi payudara Kumala. Ada sensasi tersendiri yang Kumala rasakan atas dua pasang tangan menjamah tubuhnya dengan penuh birahi. "Mereka benar-benar menginginkan diriku!"

Kumala berkonsentrasi pada kepala penis Ricky yang sudah bersiap merobek selaput keperawanannya. Ia mencoba mengantisipasi rasa sakit yang mungkin akan ia rasakan sebentar lagi. Konsentrasinya langsung buyar saat tubuhnya melonjak kaget karena jari-jari Zulfikri menjepit keras puting susunya.

"AAWW!" teriak Kumala sambil menatap Zulfikri dengan marah.

Dengan satu gerakan yang kuat dan mantap, Ricky menekan pinggulnya dan batang penis Ricky menyeruak masuk, merobek dengan sukses selaput dara yang Kumala jaga untuk dipersembahkan kepada kekasihnya. Kumala tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata rasa sakit yang ia rasakan saat itu. Yang pasti air matanya langsung mengalir, telinganya pengang mendengar jeritan yang keluar dari mulutnya sendiri, tubuhnya menegang, dan otot-otot vaginanya mengencang rapat. Ia berharap dengan merapatkan dinding-dinding vaginanya dapat mendorong keluar penis Ricky.

Setelah selesai merapatkan otot-otot vaginanya, Kumala mendapatkan batang kejantanan Ricky masih bersemayam di dalam tubuhnya. Kumala menangis sejadi-jadinya karena menyadari keperawanannya sudah terenggut. Selamanya hilang dan selamanya dirinya tidak dapat lepas dari kenyataan bahwa orang yang merenggut keperawanannya tak lain adalah Ricky, pria yang tidak ia cintai.

Ricky tidak ingin menambah rasa sakit Kumala sehingga ia tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali. Dengan penuh perasaan Ricky membelai rambut Kumala sambil berbisik, "Maaf... maaf, Mala... Sakit ya? Aku ga keburu-buru kan? Shhhh... udah, udah... jangan nangis lagi. Semua bakalan baik-baik aja, OK? Ga usah kuatir, rasa sakitnya cuma sebentar kok. Aku jamin deh, sebentar lagi kamu pasti bakal ngrasain kenikmatan..."

Suara dan kata-kata Ricky yang lembut terasa sangat menenangkan hati Kumala. Dan benar saja, rasa sakit yang Kumala rasakan sudah hilang tak berbekas. Perlahan-lahan saraf-saraf di liang kewanitaannya mulai merasakan tebal dan kerasnya penis Ricky.

Ricky menggerakkan pinggulnya sedikit demi sedikit, masih berhati-hati agar tidak menyakiti Kumala. Tanpa kesulitan yang berarti penis Ricky bergerak-gerak maju mundur di liang sempit Kumala. Cairan pelumas yang dikeluarkan oleh tubuh Kumala sangat membantu dalam hal ini.

"Aaaahhhh! Kamu ternyata udah basah bangeeeet!"

Mata Kumala membesar. Ia sendiri baru tersadar betapa basah liang kewanitaannya saat itu. "Nggak... ga mungkin! Aku ga basah!... Aku ga basah!" gumam Kumala.

"Hohoho, jelas SANGAT basah! Kamu ga usah bantah lagi deh, Mala. Penisku sekarang lagi ada di dalam tubuhmu. Jadi udah pasti aku tau betapa basahnya kamu."

Ricky menarik batang penisnya keluar namun masih menyisakan kepala penisnya terkubur dalam celah sempit Kumala. Dari bagian yang keluar itu, mereka melihat batang Ricky mengkilap karena berlumuran lendir dari vagina Kumala.

"Wah wah wah... ga nyangka Kumala ternyata punya nafsu seks yang tinggi banget," ejek Ricky.

"Nggak! Bukan gitu! Aku ga terangsang! Ini kan akibat reaksi dari obat perangsang yang kalian masukin ke minumanku!" bantah Kumala.

Ketiga pria itu saling berpandang-pandangan selama beberapa waktu sebelum akhirnya gelak tawa mereka bertiga meledak memenuhi ruangan itu. Kumala kebingungan melihat reaksi mereka ini. "Apanya yang lucu?!" bentak Kumala.

Setelah tawanya reda Ricky menjelaskan, "Kumala, Kumala... Siapa bilang minumanmu itu ada obat perangsangnya?? Kamu benaran ga tau yah? Minumanmu itu sebenarnya cuma campuran Red Bull, teh dan garam dikit. Kita sama sekali ga masukin obat perangsang!"

Kumala tidak mempercayai penjelasan Ricky sedikitpun. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bohong! Kamu bohong! Aku ga percaya omonganmu!"

"Hahahaha! Jadi kamu lebih percaya kalo tadi kamu minum obat perangsang soalnya saat ini kamu udah sangat terangsang, kan? Jadi dengan kata lain...," Ricky berhenti sejenak, "kamu jadi terangsang cuma dengan lihat aku bermasturbasi, bahkan tanpa aku sentuh kamu sama sekali?"

"NGGAK! Aku ga mau percaya kata-katamu!"

"Terserah, deh. Yang pasti saat ini tubuhmu udah pengen banget penisku masuk lagi," Ricky berkata dengan mata tertuju pada lelehan yang keluar dari vagina Kumala, mengalir ke batang penis Ricky lalu menetes ke lantai.

"Anu... itu...," kali ini Kumala tidak dapat meneruskan kalimatnya. Ia sadar bahwa perkataan Ricky benar adanya. Vaginanya berdenyut-denyut dengan liar, persis seperti yang biasanya ia rasakan saat dirinya dalam kondisi yang amat sangat terangsang.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ricky mendorong masuk penisnya. Batang kemaluannya masuk dengan sangat perlahan, sentimeter demi sentimeter Ricky nikmati dengan suara lenguhan penuh gairah. Lenguhan Ricky berpadu dengan suara desah Kumala yang sudah tidak berhasil ia tahan lagi.

Tak lama setelah itu suara lenguh, rintih dan desah Kumala dan Ricky mulai saling bersahut-sahutan, saling berganti-gantian mengisi ruangan yang sudah semakin kental dengan aroma seks. Kecupan bibir, remasan jari-jari, jilatan lidah, gesekan kulit dengan kulit dari Wawan dan Zulfikri menambah semarak pesta birahi keempat insan di ruangan tersebut.

Tubuh Kumala bergoyang-goyang seirama dengan hentak pinggul Ricky yang semakin bertenaga dan cepat. Mata Kumala yang setengah terpejam itu tiba-tiba berdelik, mulutnya membentuk huruf A, paru-parunya menarik udara sebanyak-banyaknya dari hidung dan mulutnya. Sambil menahan nafasnya selama beberapa detik, pupil matanya semakin membesar dan dahinya berkerut. Lalu dengan satu erangan keras, Kumala melepaskan semua pertahanan tubuhnya lalu berorgasme dengan dahsyatnya.

"AAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHH!" mata Kumala terpejam kuat-kuat, kedua kakinya melingkar di pinggang Ricky lalu menguncinya dengan kencang, ia mencengkram lengan Ricky sekuat tenaga.

Detik berikutnya dinding vagina Kumala berkejut-kejut dengan ritme yang tak menentu. Liang kewanitaannya berusaha menyedot batang Ricky masuk lebih dalam lagi. Otot perut dan otot paha Kumala bergetar-getar setelah rasa nikmat itu dalam sekejap menjalar ke seluruh pelosok tubuhnya.

Setelah sekian lama menahan dirinya untuk tidak berejakulasi, Ricky harus menghentikan apapun yang ia kerjakan saat itu. Jika tidak, ia yakin dirinya tidak dapat menahan sensasi yang dirasakan pada penisnya, belum lagi ditambah dengan melihat ekspresi wajah Kumala yang sangat erotis.

Baru saja beberapa detik setelah Kumala menjadi tenang, Ricky yang berusaha sekuat tenaga untuk menahan ejakulasinya akhirnya tidak dapat menahan dirinya lagi. Ia mendekap erat-erat tubuh Kumala lalu menekan masuk penisnya sedalam mungkin. Bersamaan dengan itu, dari kepala penisnya menyembur luapan-luapan sperma panas yang menabrak dinding-dinding liang kewanitaan dan juga mulut rahim Kumala.

Hal ini membuat Kumala orgasme yang kedua kalinya. Kumala balas memeluk tubuh Ricky erat-erat. Ia memejamkan kedua matanya sekuat tenaganya dan berteriak, "WIRAAAAAAA.... MA-AAAAAAAAAF!!!"

Begitu kerasnya guncangan tubuh mereka berdua sehingga tas Zulfikri terjatuh. Dari dalam tas itu sebuah botol Red Bull kosong bergulir keluar ke atas lantai, menjadi saksi bisu kenikmatan terlarang yang Kumala rasakan.Cuaca cukup cerah di Senin malam itu. Kumala, Ricky, Wawan dan Zulfikri sedang makan malam bersama. Ricky, Wawan dan Zulfikri adalah rekan sekerja Kumala di kantor. Dan kebetulan mereka berempat dikirim oleh kantor pusat ke suatu pulau untuk tugas dinas.

Sejak hari pertama mereka tiba di sana, Ricky sudah sering mengolok-olok Kumala. Malam itu tidaklah berbeda. Ricky menantang Kumala untuk menyicipi minuman tradisional khusus daerah sana. Seperti biasanya, Kumala tidak menghiraukan Ricky. Namun karena terus menerus diolok-olok oleh ketiga pria tersebut, Kumala akhirnya menyetujui untuk mencoba minuman itu (hanya agar mereka berhenti mengolok-olok dirinya).

Kumala memanggil pelayan untuk memesan minuman itu dan setelah menunggu kurang lebih lima menit, minuman tersebut sudah diantar ke hadapan Kumala. Minuman tersebut sama sekali tidak terlihat spesial/khas. Kumala memperhatikan minuman itu dan tidak menemui adanya 'keanehan' dan lebih menyerupai teh encer.

Tidak melihat keanehan apa-apa pada minuman itu, Kumala menegaknya perlahan-lahan. Rasa manis dan menyegarkan membasuh mulut dan tenggorokan Kumala. Saat hampir habis minuman itu diteguknya, Kumala mencoba untuk mengingat-ingat dimana ia pernah merasakan minuman seperti ini sebelumnya. Namun ia tidak berhasil mengingatnya.

"Jadi bagaimana minumannya? Enak, kan?" tanya Ricky dengan senyum licik. Wawan dan Zulfikri pun menyeringai.

Kumala menepis semua pemikiran negatif dalam benaknya, walau sebenarnya hatinya sempat mencelos saat ia sadar bahwa ia baru saja minum minuman yang terbuka. "Toh minuman ini dibawa dari dapur langsung oleh si pelayan," pikirnya lagi, jadi tidak mungkin ketiga pria ini menyabotase minuman tersebut.

Sepuluh menit setelah itu, mereka berempat kembali ke ruang training untuk melanjutkan proyek pekerjaan mereka di pulau tersebut. Kumala seperti biasa meluangkan waktunya untuk chatting dengan Wira di sela-sela waktu kerjanya. Dan malam itu semangat Kumala terasa lebih tinggi daripada hari-hari biasanya. Mungkin karena tadi ia menyempatkan diri untuk tidur siang, pikirnya.

Detik berganti detik, menit berganti menit tanpa terasa. Perbincangan dengan Wira semakin 'memanas' dan jantung Kumala mulai berdebar-debar.

Lalu Ricky bangkit berdiri dan menyuruh para manager dan peserta training untuk meninggalkan ruangan itu. Tidak biasanya Ricky menyudahi session lebih awal, terlebih lagi menyuruh para peserta untuk meninggalkan ruangan seperti ini. Walau merasa aneh atas perbuatan Ricky, Kumala tidak berniat untuk menggubrisnya karena saat itu ia sedang asyik-asyiknya chatting dengan Wira.

Setelah semua peserta, kecuali Wawan dan Zulfikri, meninggalkan ruangan tersebut, Ricky beranjak dari kursinya dan menghampiri Kumala. Dengan sigap Kumala cepat-cepat menutupi window percakapannya dengan Wira dengan window lainnya.

Ricky terkekeh melihat reaksi Kumala yang mencibir dengan tatapan kesal. Ricky tidak perduli atas reaksi Kumala karena sebenarnya ia hanya ingin mengalihkan perhatian Kumala. Saat perhatiannya tertumpu pada Ricky, Wawan bergerak tanpa bersuara dan mengunci pintu ruang training tersebut. Kumala sama sekali tidak menyadari akan semua ini.

Dengan langkah santai, Ricky (dan Wawan) kembali ke kursinya. Kumala melirik dengan ekor matanya, mengikuti gerakan Ricky sampai ia duduk di kursi. Lalu Kumala melanjutkan chatnya dengan Wira.

Ricky membuka suaranya, memulai perbincangan dengan topik yang tidak jelas. Sampai pada akhirnya ia mulai menanyakan Kumala mengenai minuman yang ia minum tadi.

Bagaimana rasanya? Apakah ia menyukainya? Pernahkah ia minum minuman yang rasanya seperti itu sebelumnya? Apa yang ia rasakan setelah minum minuman itu? Dan sebagainya.

Lalu pertanyaan Ricky semakin terperinci, "Apakah jantungmu terasa berdebar-debar sekarang?"

Kumala tersentak. Bagaimana ia bisa tahu hal ini... paling-paling hanya kebetulan, pikirnya. Lalu ia menjawab, "Detak jantungku biasa aja tuh!" tidak ingin memberikan jawaban yang diinginkan oleh Ricky.

"Masa sih kamu ga berasa?" tanyanya lagi.

Semakin ditanya, Kumala malah semakin merasakan detak jantungnya berdebar-debar. Ia menjadi kian gelisah.

Tidak menunggu jawaban dari Kumala, Ricky melanjutkan rentetan pertanyaannya. "Apakah kamu merasa tubuhmu panas? ... Hot?"

"Nggak," jawab Kumala singkat.

"Ah, ga perlu bohong, Mala. Mungkin kamu belum menyadarinya aja."

Saat itu sebenarnya Kumala memang tidak merasa tubuhnya menjadi panas, namun karena mendapat pertanyaan seperti itu otaknya menjadi semakin peka atas perubahan suhu tubuhnya walau perubahan suhunya sangatlah kecil.

Dan benar saja, Kumala sudah dapat merasakan naiknya temperatur di bagian punggung dan dada atasnya. "Asem! Mengapa tebakan-tebakannya tepat semua? Jangan-jangan minuman itu...," Kumala tidak berani menyelesaikan pemikirannya.

Dengan hati yang semakin cemas, Kumala melirik ke Wawan, Zulfikri lalu kembali ke Ricky. "Apa yang kalian taruh di minumanku?" tanya Kumala dengan nada memerintah.

"Hahahaha! Masa sih kamu nggak tahu?" akhirnya Zulfikri membuka suaranya.

"Setelah sekian lama kamu bergaul dengan kita-kita, masa kamu ndak belajar apa-apa dari semua perbincangan kita?" Wawan menambahkan.

Ricky bergerak menghampiri Kumala yang terduduk kaku. Jantung Kumala seakan disiram air es dan berhenti berdetak. Lalu Ricky mendekatkan wajahnya ke samping telinga Kumala dan berbisik, "Kamu itu wanita yang pintar, jadi kamu seharusnya udah bisa nebak apa yang kamu minum tadi, honey."

Mata Kumala membesar, wajahnya memucat walau wajahnya terasa panas. Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Berawal dari gerakan yang tak terlihat, Kumala menggeleng-gelengkan kepalanya dari bahu ke bahu.

"Nggak! Nggak mungkin! Kalian bohong! Aku ga lihat kalian memasukkan apa-apa ke dalam minumanku!" bantah Kumala dengan suara parau.

"Dasar denial! Emang! Kami ga masukin apa-apa," Ricky tidak mencoba membantah, "tapi kamu ga akan nyangka betapa mudahnya pekerja hotel ini mengabulkan permintaan khusus cuma dengan imbalan ekstra yang setimpal."

Pikiran Kumala segera menelusuri pekerja-pekerja hotel yang mungkin mau saja diperalat oleh para cecunguk ini. "Si pelayan? Hmmm.... mungkin aja sih. Atau si chef muda yang diam-diam sering melirik aku?" benak Kumala.

Pikiran Kumala terhenti oleh pertanyaan Ricky, "Bagaimana? Kamu udah merasakan efek-efek lainnya? Putingmu udah menegang? Vaginamu udah basah?"

Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, secara refleks Kumala menarik masuk dadanya berharap puting susunya tidak terjiplak menonjol pada baju yang ia kenakan. Namun karena begitu cemasnya, Kumala malahan tanpa sadar menanti-nanti efek tersebut timbul pada tubuhnya. Hatinya sedikit lega karena setidaknya ia sama sekali tidak merasa terangsang dan efek-efek yang Ricky sebutkan tadi belum muncul juga sampai saat itu.

"Moga-moga obat perangsang yang aku minum ga bereaksi secara optimal atas tubuhku deh," Kumala mencoba untuk menghibur dirinya sendiri.

Sedang otaknya sibuk berpikir, Kumala tidak menyadari Ricky sudah memberi isyarat kepada Wawan dan Zulfikri untuk berdiri di belakang kiri dan kanan Kumala. Dengan satu anggukan kecil Ricky, Wawan dan Zulfikri secepat kilat mengamankan Kumala.

Mereka berdua masing-masing memegang lengan dan pundak Kumala dengan erat. Kumala terkejut dan langsung berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman Wawan dan Zulfikri. Ia dapat menebak apa yang hendak mereka perbuat atas dirinya. Dengan penuh ketakutan Kumala menghentakkan kakinya agar dapat bangkit dari tempat duduknya. Wawan dan Zulfikri memberi tekanan yang kuat pada pundaknya sehingga usaha Kumala jadi sia-sia. Kumala menggoyang-goyangkan seluruh tubuh bagian atasnya sejadi-jadinya, berharap setidaknya pegangan salah satu dari mereka menjadi longgar.

BREETT! Kumala melihat Ricky membuang sobekan baju ke lantai. Ya, baju atasnya sudah terkoyak sehingga payudara Kumala yang masih terbungkus BH dapat terlihat dengan jelas. Ricky lanjut mencabik-cabik sisa kaos Kumala seperti kerasukan setan.

"STOOOOOP! Please stop, Ricky!" teriak Kumala sekuat tenaga.

Ricky berhenti lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap mata Kumala.

Kumala sempat kaget mendapati Ricky menuruti perintahnya. Lalu dengan mata berlinang air mata, Kumala memohon, "Please, Ricky. Lepasin aku sekarang juga. Aku ga akan laporin kejadian ini ke kak Joko. Aku ga akan ngadu hal ini ke siapa-siapa deh, termasuk Wira. Aku mohon, lepasin aku."

Ricky mundur satu langkah. Lalu Ricky melayangkan pandangannya ke Wawan lalu berpindah ke Zulfikri seakan hendak meminta persetujuan mereka berdua.

Kumala mengikuti pandangan Ricky untuk melihat respon dari mereka berdua. Ia mendapati Wawan dan Zulfikri sedang memandang matanya dalam-dalam. Setelah beberapa saat, Kumala menyadari bahwa Wawan dan Zulfikri ternyata bukanlah sedang menatap matanya. Pandangan mereka yang penuh birahi melekat pada belahan bukit dada Kumala yang putih mulus itu.

Mengetahui apa yang sebentar lagi bakal terjadi atas dirinya, air mata Kumala semakin deras mengalir. Senyum Ricky tersungging menghias wajahnya yang penuh percaya diri. Lalu ia menghampiri wajah Kumala dekat-dekat sehingga Kumala dapat merasakan nafas Ricky yang sudah menderu di wajahnya.

"Aku harap kamu suka tantangan, Mala. Jadi gini... Aku akan lepasin kamu kalo kamu bisa lolos tantangan yang aku kasih."

"Aku akan membiarkan kamu selama 5 menit. Aku ga akan sentuh kamu selama itu. Dan setelah 5 menit berlalu, aku akan cek 2 hal. Kalo setelah 5 menit itu ternyata puting kamu ga mengeras dan vagina kamu ga basah, aku akan lepasin kamu tanpa embel-embel ini itu."

"Tapi... kalo puting kamu mengeras dan vagina kamu basah," Ricky berhenti sejenak sebelum meneruskan kalimatnya, "Hahahaha... Kita akan berpesta pora rame-rame!"

"Asoooy!"

"Mantaaaaaap!"

Seperti mendapat durian runtuh, Wawan dan Zulfikri bersorak sorai kegirangan.

Kumala berpikir keras dalam otaknya, "Udah pasti aku ga punya hak apa-apa untuk bernegosiasi sama Ricky. Aku cuma bisa berharap untuk lolos dari tantangan ini dan berharap Ricky benar-benar menepati janjinya untuk lepasin aku. Ga ada pilihan lain. Untungnya saat ini aku belum merasakan sepenuhnya efek dari obat perangsang yang mereka kasih. Jadi, semakin cepat tantangan ini dimulai, semakin baik. Uhhh... moga-moga dalam 5 menit ke depan, obat perangsangnya ga sempat bereaksi pada payudara dan vaginaku deh."

"Baik! Tapi kamu harus pegang janjimu, OK?"

"Of course! Aku selalu pegang janji-janjiku. Kamu ga usah khawatir," sanggah Ricky.

Dengan santai Ricky menggeser meja tempat Kumala menggunakan laptopnya ke samping sehingga tidak ada barang yang menghalangi di antara Kumala dan Ricky. Ia bahkan menyempatkan dirinya untuk melirik ke layar laptop Kumala dan melihat percakapannya dengan Wira yang terganggu. Terlihat Wira berkali-kali memanggil Kumala via chat.

Ricky terkekeh lalu menyeret kursinya sehingga ia duduk berhadap-hadapan dengan Kumala yang masih diamankan oleh Wawan dan Zulfikri.

"Tantangannya udah mulai belum sih? Kenapa Wawan dan Zul masih pegangin tanganku nih?" tanya Kumala, tidak sabar melihat Ricky yang sengaja mengulur-ulur waktu. Kumala yakin Ricky tahu bahwa belum cukup waktu buat obat perangsang tersebut untuk bereaksi secara optimal pada tubuhnya. Setiap menit yang terbuang memperbesar kemungkinan tubuhnya menjadi terangsang.

"Belum, honey. Aku perlu kepastian kalo kamu ga bakalan kabur dari tempat ini. Dan kepastian tersebut cuma bisa aku dapat kalo Wawan dan Zulfikri tetap pegangin kamu."

"Tenang aja, Mala. Kita bertiga akan bersikap fair kok. Walau Wawan dan Zul pegangin tangan dan pundakmu, tangan-tangan mereka ga akan grepe-grepe kamu deh," tambah Ricky.

"Jadi kapan kamu mau mulai tantangan ini?" Kumala bertanya dengan suara setengah berteriak.

"Sabar, sabar, my darling Kumala. Aku perlu cari jam tanganku dulu, nih. Aku ga inget aku taruh dimana," jawab Ricky sambil menahan tawanya.

Mulut Kumala mengatup rapat karena geram. Harapannya sedikit demi sedikit mulai berkurang lantaran terlihatnya kecurangan terselubung yang mereka praktekkan. Mata Kumala mengikuti kemana Ricky bergerak. Ricky bangkit berdiri dan terlihat sibuk mencari-cari dimana gerangan jam tangannya.

Detik demi detik berlalu. Menit berganti menit. Walau tubuh bagian atasnya hanya ditutupi oleh BH berwarna krem, namun butir-butir keringat tetap merembes keluar dari kening dan dahi Kumala. Jantungnya pun masih berdetak dengan cepat. Kumala semakin resah menunggu reaksi obat perangsang yang mungkin sewaktu-waktu memercik birahi tubuhnya.

Lalu Kumala teringat kalau bukan hanya Ricky yang selalu mengenakan jam tangan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat pergelangan tangan Wawan dan Zulfikri.

Yes! Zulfikri mengenakan jam tangan. Kumala segera berseru, "Ricky! Tuh pakai aja jam tangan Zul."

Ricky berpura-pura terkejut dan baru menyadari bahwa Zulfikri pun mengenakan jam tangan. "Oh benar juga yah. Kenapa kamu ga ngomong dari tadi, Zul?"

Ricky melangkah mendekati mereka. Masih dengan gerakan yang santai, Ricky melepaskan jam tangan Zulfikri.

Tiba-tiba jam tangan itu terjatuh dan mengenai dada Kumala. Ricky berusaha menangkap jam tangan yang terjatuh itu. Dan dengan gerakan yang ceroboh, Ricky 'tanpa sengaja' membelai bukit kenyal Kumala dengan punggung tangannya.

"Oops, maaf. Aku ga sengaja lho sentuh payudaramu," penjelasan Ricky terasa hambar apalagi ditambah senyum yang semakin melebar.

"Ayo, cepat mulai dihitung 5 menit tantangan ini!" Kumala dengan setengah hati mengacuhkan sentuhan tangan Ricky pada payudaranya.

Kait pada jam tersebut tersangkut pada bagian depan BH Kumala. Kumala benar-benar tidak habis pikir bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi.

Ricky menarik ke atas jam tangan yang masih tersangkut di BH Kumala sehingga seluruh bagian depan BH itu terangkat naik. Kedua puting susu Kumala terekspos di hadapan ketiga pria itu. Wawan dan Zulfikri mungkin tidak dapat melihat dengan jelas pemandangan indah itu namun dilihat dari raut wajah Ricky, Kumala yakin bahwa Ricky sangat menyukai apa yang ia lihat di hadapannya.

Mata Ricky melotot dan berbinar-binar. Kedua alisnya terangkat tinggi-tinggi. Bibirnya terbuka menghiasi senyumnya yang lebar. Dadanya kembang kempis seiring dengan nafasnya yang terdengar semakin berat.

Tanpa sadar Kumala melirik ke selangkangan Ricky. Jantung Kumala seakan berhenti berdegup ketika ia melihat tonjolan besar di celana Ricky. Wajah Kumala bersemu semakin merah saat dirinya secara refleks memvisualisasi penis Ricky yang sudah keras berereksi di balik tonjolan besar itu. Jika tadi jantungnya serasa berhenti berdetak, kini jantung Kumala serasa berdetak dua kali lebih cepat.

Langsung Kumala memalingkan wajahnya ke lantai dekat kakinya. Walaupun merasa jijik karena membayangkan penis Ricky, Kumala merasakan api birahinya mulai memercik. "Oh, tidak! Jangan, please. Tahan sebentar lagi! Jangan sekarang!" serunya dalam hati.

"Oho! Kamu kaget yah lihat 'peralatanku'? Apakah batangku lebih besar dari batang Wira? Kamu pernah lihat penis dia kan? Atau... jangan-jangan kamu belum pernah sama sekali melihat penis seorang lelaki?"

Pertanyaan demi pertanyaan membuat kepala Kumala semakin menunduk malu. Ia tidak berani menatap Ricky lalu memutuskan untuk menutup matanya erat-erat sambil berharap agar bayangan penis Ricky dapat hilang dari benaknya.

Selagi berusaha mengalihkan pikirannya ke hal-hal lain sambil menutup kedua matanya, Kumala tersadar oleh suara tawa geli Wawan dan Zulfikri. Berkat rasa ingin tahunya yang begitu besar akhirnya Kumala memutuskan untuk membuka matanya untuk melihat apa yang membuat mereka cekikikan.

Bola mata Kumala seperti hendak keluar dari tempatnya saat ia melihat Ricky berdiri di hadapannya dalam keadaan telanjang bulat. Kursi Ricky sudah bergeser ke pinggir ruangan. Penisnya yang tebal dan kekar terlihat sangat besar dan begitu kontras dibanding dengan perawakannya yang pendek. Pandangan Kumala menempel lekat-lekat pada batang kejantanan Ricky. Mulut Kumala masih menganga saat Ricky mengangkat suaranya.

"Gimana, Mala? Takjub? Penis ini udah membuat banyak wanita bergelinjang penuh kenikmatan. Hahahaha!" tawa Ricky memenuhi ruang training itu. Lalu ia melanjutkan, "Ga usah kuatir. Sehabis 5 menit tantangan ini, kamu pun bisa menikmati batangku kok."

Terbangun dari lamunan Kumala mengatupkan mulutnya cepat-cepat dan berseru, "Ayo! Dimulai perhitungan jamnya! Lima menit, kan?"

Kali ini Ricky menuruti permintaan Kumala. Ia memencet-mencet jam tangan Zulfikri dan akhirnya berkata, "Ok! Lima menit... set... GO!"

Kumala tadi memang sempat mengira obat perangsang itu sudah bereaksi, namun sekarang ia yakin dirinya ternyata belum merasakan reaksi apa-apa. Walaupun demikian, jantungnya semakin kencang berdegup.

"Tiga puluh detik...," kata Ricky perlahan.

Peluh di kening Kumala menetes dan jatuh merembes ke kain celananya. Kumala merasa 30 detik berlalu dengan sangat lambat. Ia terus berharap obat perangsang itu tidak menimbulkan reaksi apa-apa. Kalaupun obat tersebut memang akhirnya menimbulkan reaksi, Kumala sangat berharap reaksi itu baru muncul setelah tantangan ini berakhir.

Sambil memegang jam tangan Zulfikri di tangan kirinya, Ricky menghampiri Kumala. Penisnya mengangguk-angguk seirama dengan langkah kaki Ricky. Kumala mengalihkan pandangannya ke samping namun melalui ekor matanya ia masih dapat melihat batang kemaluan Ricky. Akhirnya Kumala menutup kedua matanya.

"Satu menit udah lewat!"

Masih belum ada tanda-tanda reaksi dari obat perangsang itu pada diri Kumala. Namun tidak lama setelah itu, Kumala merasakan Ricky sedang melakukan sesuatu di dekatnya. Tubuhnya sama sekali tidak disentuh oleh Ricky, tapi Kumala dapat merasakan Ricky dari pergerakan udara di sekitarnya.

Sedang serius-seriusnya berkonsentrasi, Kumala tiba-tiba merasakan semilir angin berhembus mengenai puting kirinya. Ia mencoba untuk mengacuhkannya namun makin lama hembusan lembut itu semakin kuat.

Lalu tiba-tiba saja hembusan itu terhenti dan berganti dengan hawa hangat yang menyelimuti puting dan daerah sekitarnya. Kumala merasakan hawa hangat itu seakan menari-nari dengan liar di putingnya. Tak dapat menahan rasa ingin tahunya, Kumala segera membuka matanya dan melihat dari mana sumber tarian hawa hangat tersebut.

Mulut Ricky terbuka lebar di depan payudara kiri Kumala dan lidahnya bergetar naik turun dengan cepat seperti gerakan mengipas. Lidah Ricky sama sekali tidak menyentuh putingnya, akan tetapi Kumala dapat merasakan tiap jilatan dari angin yang tercipta oleh gerakan lidah Ricky pada putingnya.

"Hey! Ga boleh gitu dong!" seru Kumala tanpa berpikir panjang.

Ricky mendongak lalu mengatupkan mulutnya. "Kenapa? Aku ga nyentuh tubuhmu sama sekali, kan?" dalih Ricky.

Kumala membuka mulutnya untuk menyanggah namun otaknya tidak dapat menemukan kata-kata untuk ia ucapkan.

"Emangnya kenapa? Lidahku ga bikin kamu terangsang, kan?" kata Ricky sebelum memperagakan gerakan lidahnya lagi kepada Kumala.

Kumala memalingkan wajahnya ke kanan dan tetap diam seribu bahasa. Ricky mengikuti arah wajah Kumala dengan membungkuk di depan payudara kanan Kumala. Ia sengaja memilih payudara ini karena ingin Kumala melihat wajahnya. Ia kembali menggunakan lidahnya untuk menjilati udara di dekat puting itu.

Kumala setengah terpaksa melihat perbuatan Ricky ini. Di satu sisi ia tidak ingin melihat perbuatan jijik ini namun di sisi lain ia juga ingin memastikan bahwa Ricky tidak berbuat curang.

Kumala dapat melihat lidah Ricky meliuk-liuk dengan kecepatan yang tak menentu. Kadang lidahnya bergerak dengan cepat, kadang bergerak dengan sangat lambat. Namun satu hal yang pasti, lidah Ricky sering mencapai jarak yang sangat dekat dari putingnya. Ya, Ricky selalu berhasil membuat lidahnya hampir bersentuhan dengan puting Kumala.

Sementara matanya tertumpu pada permainan lidah Ricky pada putingnya, Kumala tiba-tiba merasakan obat perangsang itu mulai bereaksi lagi pada tubuhnya. Energi birahi dalam tubuhnya mulai menggeliat keluar dari daerah sekitar payudaranya, perlahan namun pasti.

"Oh, please, jangan!" hatinya menjerit.

Dan benar saja, puting kanannya mulai membesar, tonjolan itu semakin keluar lalu mulai mengeras. Kumala cepat-cepat memikirkan hal-hal lain yang dapat mengalihkan perhatiannya dari birahi akibat obat perangsang yang ia minum. Dan ia teringat, "Eh! Udah berapa menit nih?"

Sambil terus meliuk-liukkan lidahnya, ia tidak menjawab pertanyaan itu. Ricky melirik ke wajah Kumala. Beberapa detik kemudian Ricky menghentikan apa yang ia lakukan dan berkata, "Kenapa kamu tiba-tiba mau tau? Jangan-jangan..."

Senyum lebar menghias wajah Ricky saat ia mendapati puting kanan Kumala sudah berdiri tegang. "Aha! Satu puting selesai, tinggal satu puting lagi!" Ia berpindah ke puting kiri Kumala lalu membungkuk untuk memulai.

"Berapa menit lagi? Ayo kasih tahu aku!" pinta Kumala dengan nada memerintah.

"Oh iya, aku sampai lupa lihat jam."

Ricky memperhatikan jam Zulfikri beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Masih sekitar 3 menit lagi kok."

Tidak butuh waktu lama untuk puting kiri Kumala mengeras dan berdiri tegak. Bayangan lidah Ricky yang nyaris menjilat-jilat putingnya laksana bensin pada api birahinya. Ricky yang sudah berpengalaman dengan wanita dapat menduga hal ini dengan mudah.

"Stop! Kamu curang! Ga boleh gitu dong!" protes Kumala.

"Aku ga pernah bilang kalo aku ga boleh melakukan apapun di depanmu, kan? Selama aku ga nyentuh kamu, aku ga langgar syarat yang aku berikan tuh."

"Dua putingmu udah gagal dan yang tersisa cuma tinggal vaginamu," Ricky berkata penuh bangga. "Ok lah, aku ga akan pakai trik lidahku pada vaginamu. Tapi untuk itu, kamu ga boleh pakai celana sama sekali."

Setelah mendapat isyarat dari Ricky, Wawan mengambil alih lengan Kumala yang dipegang oleh Zulfikri. Lalu tanpa melakukan banyak gerakan yang sia-sia, Zulfikri melucuti celana panjang beserta celana dalam Kumala dengan cepat. Walau meronta-ronta dan berteriak-teriak menyuruh Zulfikri untuk menghentikan perbuatannya, pada akhirnya Kumala hanya dapat menerima nasibnya harus bertelanjang di hadapan ketiga pria yang sudah dikuasai nafsu birahi ini.

"Masih ada 2 menit lagi," Ricky mengingatkan.

Obat perangsang itu terus memberi reaksi pada kedua putingnya. Kedua puting susunya tetap keras dan berdiri tegak walau sudah tidak dirangsang oleh Ricky. Satu hal yang membuat diri Kumala agak lega adalah ia tidak merasakan efek apa-apa pada vaginanya.

Melihat ekspresi muka Kumala yang menjadi tenang, Ricky mendekatinya dan memperhatikan dengan seksama kedua puting Kumala. Satu persatu ia teliti dengan serius. Kumala merasa risih mendapati Ricky yang bertelanjang bulat berdiri hanya sejangkauan tangannya, memandangi payudaranya seperti itu.

Tanpa berkata apa-apa, Ricky mulai mengocok-ngocok batang penisnya yang sudah berereksi maksimal. Pertama-tama ia mengocoknya perlahan dan setelah beberapa waktu, kecepatan kocokannya menjadi bervariasi dan tidak menentu.

"Oooooohhhh...," terdengar lenguh panjang dari mulut Ricky. Kumala melirik sekilas namun pandangan matanya mau tidak mau melekat pada kepala penis Ricky yang baru saja mengeluarkan pre-cum, cairan bening yang berfungsi sebagai pelumas. Tanpa Kumala sadari, ia membasahi bibirnya sendiri dengan lidahnya lalu menelan ludah.

"Aseeem! Kenapa aku ini? Masa sih aku benar-benar jadi terangsang gara-gara melihat dia?" umpat Kumala dalam hati. "Lebih baik aku tutup rapat-rapat mataku dan pendengaranku. Ayo, alihkan pikiranmu ke hal-hal lain!"

Melihat Kumala menutup matanya rapat-rapat sementara dada Kumala mulai naik turun mengimbangi nafas yang mulai memberat, Ricky sudah dapat menebak apa yang sedang terjadi pada diri Kumala. Lalu Ricky menganggukan kepalanya, memberi isyarat kepada Wawan dan Zulfikri. Wawan menarik kedua tangan Kumala ke atas dan menyatukan keduanya di belakang kepalanya. Dengan celana panjang yang ia lucuti tadi, Zulfikri mengikat kedua tangan Kumala dengan cekatan.

Kumala terkejut dan membelalak. "Hei, apa-apaan ini?! Kalian ga akan berbuat curang, kan??"

"Tenang.... (hhh) ... Tantangan ini... (mmhhh) ... masih berlangsung... (hhhh) ... secara fair kok... (nnhhh) ...." jawab Ricky dengan nafas terengah-engah.

Melihat penis yang masih ia kocok-kocok tersebut sudah berubah menjadi merah gelap, Kumala spontan menutup matanya kembali. Kain celana panjang yang digunakan untuk mengikat tangan Kumala masih tersisa dan menjuntai panjang. Zulfikri menarik juntaian kain tersebut ke belakang lalu diikatkannya ke sandaran kursi tempat Kumala duduk. Hal ini menyebabkan kedua tangan Kumala tertarik ke belakang dan payudaranya terdorong ke luar.

"Ah!" pekik Kumala pelan. Posisi tubuhnya sangatlah tidak nyaman. Kedua tangan yang tertarik di belakang kepalanya menyebabkan kedua sikut Kumala menunjuk ke langit-langit, dada membusung, dan panggulnya tertekan ke bawah yang berarti... kemaluan Kumala menekan kuat ke permukaan kursi yang ia duduki.

"Duh, ga boleh gini nih! Kalo kemaluanku sampai bergesek-gesek dengan kursi ini dapat dipastikan aku bakalan jadi basah," pikir Kumala cepat. Oleh karena itu Kumala membuka kedua kakinya sehingga ia dapat mengangkat lalu memajukan pantatnya sampai ke ujung kursi. Setidaknya kini bibir vagina dan klitorisnya tidak bersentuhan dengan permukaan kursi lagi.

Melihat kesempatan ini, Zulfikri dan Wawan segera memegangi kedua paha Kumala agar ia tidak dapat menutup kedua pahanya kembali. Kumala tidak dapat berkutik lagi. Selangkangannya terpampang untuk mereka bertiga. Kumala dapat merasakan dinding-dinding vaginanya mulai meleleh perlahan-lahan. "Sialaaaaaan!" umpatnya dalam hati, "Moga-moga cairanku ga banyak dan ga sampai mengalir keluar."

Kini tantangan itu masuk ke menit terakhir. Ricky semakin mempercepat tangannya yang mengocok-ngocok batang kejantanannya yang kekar itu, sementara Kumala masih terus memejamkan matanya. "Ayo... (hhh) ... tidak perlu ... (hhh) ... malu-malu ... (hhh) ... untuk ... (hhh) ... melihat indahnya penisku! ... (mmmhh) ... Aku tahu ... (hhh) ... kamu pernah bayangin ... (ahhh) ... dalam fantasimu. ... (unhhh) ... Aku juga sering kok ... (ohhh) ... bayangin kamu ... (mhhh) ... dalam ... (aahhh)... fantasi-fantasi liarku."

Kumala tidak menggubris kata-kata Ricky. Vaginanya masih terlihat kering dan kelihatannya ia dapat menahan gejolak birahinya sampai saat ini. Mungkin saja Kumala dapat lolos dari tantangan ini.

"Ohhhh... Kumalaaaa... I love youuuuuu!"

Lalu tanpa ada tanda apa-apa, tubuh Ricky bergelinjang kuat. "Nnnnnnggggghhhh!" lenguh Ricky dengan kuat. Sperma tersembur kencang dari mulut penis Ricky, tersemprot jauh dan mendarat di pipi dan bibir Kumala.

"AWW!" pekik Kumala kaget merasakan lendir panas mengenai wajahnya. Ia membuka matanya dan melihat penis Ricky menyemburkan luapan-luapan lendir sperma panas ke tubuhnya. Dua semprotan pertama mengenai wajah dan dada Kumala, setelah itu diikuti oleh semprotan-semprotan yang lebih lemah ke perut dan paha Kumala. Dan satu gumpalan kental sperma Ricky yang terakhir melompat dan mendarat tepat di bagian atas kemaluan Kumala.

Ricky merasakan kakinya menjadi lemas sehingga ia harus berlutut untuk menopang berat badannya. Penisnya yang masih tegak berdiri dengan angkuhnya sesekali berkejut-kejut setelah baru saja melewati ejakulasi yang dahsyat. Batang itu terlihat mengkilap karena basah oleh cairan spermanya sendiri yang melimpah ruah.

Kumala masih menganga tidak percaya apa yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Selama beberapa detik mereka berempat tidak bersuara dan juga tidak banyak bergerak. Mereka seakan tercengang oleh kedahsyatan ejakulasi Ricky.

Akhirnya Kumala terbangun dari kekagetannya saat ia merasakan sperma Ricky meleleh turun dan akhirnya masuk ke celah bibir vaginanya. "OH, TIDAAAAK!" Mata Kumala terbelalak.

"STOP! STOP! Jangan sampai spermanya masuk! Lepasin aku! Cepaaat!" teriak Kumala sambil meronta-ronta sekuat tenaga.

Zulfikri dan Wawan tidak berniat untuk melepaskan paha Kumala. Mereka hanya saling berpandangan dan tersenyum nakal. Ricky yang masih berlutut, mengatur pernafasannya agar menjadi lebih teratur.

Lalu Ricky berdiri dan berkata, "Berarti kita udah tidak perlu lagi mengecek apakah vaginamu basah atau tidak, kan? Hahahaha...!"

"Sialaan! Kamu curang! Aku ga terima!"

"Lho? Perjanjiannya kan: aku akan melepaskan kamu kalo dalam waktu 5 menit, puting susumu tidak menjadi keras dan vaginamu tidak menjadi basah. Gitu, kan?" sanggah Ricky.

"Tapi...," Kumala hendak membantah namun akhirnya mengurungkan niatnya. Ia merasa tidak ada gunanya untuk berdebat dengan mereka. Pada kenyataannya, memang benar vaginanya kini menjadi basah oleh lelehan sperma Ricky. Selain bagian luarnya basah, Kumala sendiri pun sebenarnya merasakan dinding-dinding vaginanya sudah mengeluarkan cairan pelumas akibat efek dari obat perangsang yang ia minum.

"Ha! Berarti kita bisa berpesta pora! YAAAAAAY!" seru Ricky penuh kemenangan.

Ricky mengambil tissue dari kamar mandi lalu menyeka vagina Kumala yang berlumuran sperma. Kumala merinding saat merasakan sensasi gesekan tissue pada bibir kemaluannya. Setelah kering Ricky berjongkok di hadapan selangkangan Kumala.

Kumala merasakan bulu-bulu kemaluannya mengenai wajah Ricky. Hidung dan bibir Ricky hanya terpaut beberapa milimeter dari bibir vagina Kumala. Deru nafas Ricky keluar dari mulut dan hidungnya tidak menolong usaha Kumala untuk meredam nafsu birahinya.

"Hey! Ayo cepat! Buruan selesaiin semua ini! Aku ga mau berlama-lama kek ini!" bentak Kumala tak berdaya.

"Oho! Rupanya tuan putri udah nggak sabar pengen diservis nih?" ejek Zulfikri.

"Asyiiiik. Kita pun ndak perlu sungkan-sungkan lagi kalo gitu!" tambah Wawan.

Wawan dan Zulfikri menanggalkan pakaian mereka satu per satu. Baju, celana dan pakaian dalam semua mereka tanggalkan dalam waktu kurang dari satu menit. Ternyata penis mereka berdua pun sudah berereksi penuh.

Kumala melihat penis Zulfikri; agak pendek, tidak sepanjang penis Ricky namun jauh lebih tebal dari penis Ricky. Otot-otot pada batang kemaluan Zulfikri terlihat sangat kekar dan keras. Lalu Kumala menoleh ke Wawan. Penis Wawan yang paling kecil dari mereka bertiga. Pendek, ramping dan sedikit bengkok. Mirip dengan penis Wira, pikir Kumala tanpa sadar.

Mendapati ketiga pria ini jadi terangsang karena dirinya membuat kemaluan Kumala meleleh dalam seketika. Aliran darah pada dinding vaginanya terasa deras mengalir dan memperlancar mengalirnya cairan cinta keluar dari bibir kemaluannya.

Ricky dengan mudah dapat melihat betapa terangsangnya Kumala. Nafas yang memburu, dada yang naik turun dengan puting sekeras penghapus pensil, pipi dan leher yang merona merah, dan cairan cinta yang merembes keluar dari bibir kemaluan, Kumala tidak dapat lari dari kenyataan bahwa dirinya sudah benar-benar sangat terangsang.

Tanpa membuang waktu, Ricky menuntun ujung kepala penisnya yang besar itu menyelinap masuk ke celah bibir vagina Kumala. Walau hanya sebagian kecil kepala penis yang masuk, namun mulut vagina Kumala sudah terasa penuh sesak. Zulfikri dan Wawan sibuk menggerayangi payudara Kumala. Ada sensasi tersendiri yang Kumala rasakan atas dua pasang tangan menjamah tubuhnya dengan penuh birahi. "Mereka benar-benar menginginkan diriku!"

Kumala berkonsentrasi pada kepala penis Ricky yang sudah bersiap merobek selaput keperawanannya. Ia mencoba mengantisipasi rasa sakit yang mungkin akan ia rasakan sebentar lagi. Konsentrasinya langsung buyar saat tubuhnya melonjak kaget karena jari-jari Zulfikri menjepit keras puting susunya.

"AAWW!" teriak Kumala sambil menatap Zulfikri dengan marah.

Dengan satu gerakan yang kuat dan mantap, Ricky menekan pinggulnya dan batang penis Ricky menyeruak masuk, merobek dengan sukses selaput dara yang Kumala jaga untuk dipersembahkan kepada kekasihnya. Kumala tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata rasa sakit yang ia rasakan saat itu. Yang pasti air matanya langsung mengalir, telinganya pengang mendengar jeritan yang keluar dari mulutnya sendiri, tubuhnya menegang, dan otot-otot vaginanya mengencang rapat. Ia berharap dengan merapatkan dinding-dinding vaginanya dapat mendorong keluar penis Ricky.

Setelah selesai merapatkan otot-otot vaginanya, Kumala mendapatkan batang kejantanan Ricky masih bersemayam di dalam tubuhnya. Kumala menangis sejadi-jadinya karena menyadari keperawanannya sudah terenggut. Selamanya hilang dan selamanya dirinya tidak dapat lepas dari kenyataan bahwa orang yang merenggut keperawanannya tak lain adalah Ricky, pria yang tidak ia cintai.

Ricky tidak ingin menambah rasa sakit Kumala sehingga ia tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali. Dengan penuh perasaan Ricky membelai rambut Kumala sambil berbisik, "Maaf... maaf, Mala... Sakit ya? Aku ga keburu-buru kan? Shhhh... udah, udah... jangan nangis lagi. Semua bakalan baik-baik aja, OK? Ga usah kuatir, rasa sakitnya cuma sebentar kok. Aku jamin deh, sebentar lagi kamu pasti bakal ngrasain kenikmatan..."

Suara dan kata-kata Ricky yang lembut terasa sangat menenangkan hati Kumala. Dan benar saja, rasa sakit yang Kumala rasakan sudah hilang tak berbekas. Perlahan-lahan saraf-saraf di liang kewanitaannya mulai merasakan tebal dan kerasnya penis Ricky.

Ricky menggerakkan pinggulnya sedikit demi sedikit, masih berhati-hati agar tidak menyakiti Kumala. Tanpa kesulitan yang berarti penis Ricky bergerak-gerak maju mundur di liang sempit Kumala. Cairan pelumas yang dikeluarkan oleh tubuh Kumala sangat membantu dalam hal ini.

"Aaaahhhh! Kamu ternyata udah basah bangeeeet!"

Mata Kumala membesar. Ia sendiri baru tersadar betapa basah liang kewanitaannya saat itu. "Nggak... ga mungkin! Aku ga basah!... Aku ga basah!" gumam Kumala.

"Hohoho, jelas SANGAT basah! Kamu ga usah bantah lagi deh, Mala. Penisku sekarang lagi ada di dalam tubuhmu. Jadi udah pasti aku tau betapa basahnya kamu."

Ricky menarik batang penisnya keluar namun masih menyisakan kepala penisnya terkubur dalam celah sempit Kumala. Dari bagian yang keluar itu, mereka melihat batang Ricky mengkilap karena berlumuran lendir dari vagina Kumala.

"Wah wah wah... ga nyangka Kumala ternyata punya nafsu seks yang tinggi banget," ejek Ricky.

"Nggak! Bukan gitu! Aku ga terangsang! Ini kan akibat reaksi dari obat perangsang yang kalian masukin ke minumanku!" bantah Kumala.

Ketiga pria itu saling berpandang-pandangan selama beberapa waktu sebelum akhirnya gelak tawa mereka bertiga meledak memenuhi ruangan itu. Kumala kebingungan melihat reaksi mereka ini. "Apanya yang lucu?!" bentak Kumala.

Setelah tawanya reda Ricky menjelaskan, "Kumala, Kumala... Siapa bilang minumanmu itu ada obat perangsangnya?? Kamu benaran ga tau yah? Minumanmu itu sebenarnya cuma campuran Red Bull, teh dan garam dikit. Kita sama sekali ga masukin obat perangsang!"

Kumala tidak mempercayai penjelasan Ricky sedikitpun. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bohong! Kamu bohong! Aku ga percaya omonganmu!"

"Hahahaha! Jadi kamu lebih percaya kalo tadi kamu minum obat perangsang soalnya saat ini kamu udah sangat terangsang, kan? Jadi dengan kata lain...," Ricky berhenti sejenak, "kamu jadi terangsang cuma dengan lihat aku bermasturbasi, bahkan tanpa aku sentuh kamu sama sekali?"

"NGGAK! Aku ga mau percaya kata-katamu!"

"Terserah, deh. Yang pasti saat ini tubuhmu udah pengen banget penisku masuk lagi," Ricky berkata dengan mata tertuju pada lelehan yang keluar dari vagina Kumala, mengalir ke batang penis Ricky lalu menetes ke lantai.

"Anu... itu...," kali ini Kumala tidak dapat meneruskan kalimatnya. Ia sadar bahwa perkataan Ricky benar adanya. Vaginanya berdenyut-denyut dengan liar, persis seperti yang biasanya ia rasakan saat dirinya dalam kondisi yang amat sangat terangsang.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ricky mendorong masuk penisnya. Batang kemaluannya masuk dengan sangat perlahan, sentimeter demi sentimeter Ricky nikmati dengan suara lenguhan penuh gairah. Lenguhan Ricky berpadu dengan suara desah Kumala yang sudah tidak berhasil ia tahan lagi.

Tak lama setelah itu suara lenguh, rintih dan desah Kumala dan Ricky mulai saling bersahut-sahutan, saling berganti-gantian mengisi ruangan yang sudah semakin kental dengan aroma seks. Kecupan bibir, remasan jari-jari, jilatan lidah, gesekan kulit dengan kulit dari Wawan dan Zulfikri menambah semarak pesta birahi keempat insan di ruangan tersebut.

Tubuh Kumala bergoyang-goyang seirama dengan hentak pinggul Ricky yang semakin bertenaga dan cepat. Mata Kumala yang setengah terpejam itu tiba-tiba berdelik, mulutnya membentuk huruf A, paru-parunya menarik udara sebanyak-banyaknya dari hidung dan mulutnya. Sambil menahan nafasnya selama beberapa detik, pupil matanya semakin membesar dan dahinya berkerut. Lalu dengan satu erangan keras, Kumala melepaskan semua pertahanan tubuhnya lalu berorgasme dengan dahsyatnya.

"AAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHH!" mata Kumala terpejam kuat-kuat, kedua kakinya melingkar di pinggang Ricky lalu menguncinya dengan kencang, ia mencengkram lengan Ricky sekuat tenaga.

Detik berikutnya dinding vagina Kumala berkejut-kejut dengan ritme yang tak menentu. Liang kewanitaannya berusaha menyedot batang Ricky masuk lebih dalam lagi. Otot perut dan otot paha Kumala bergetar-getar setelah rasa nikmat itu dalam sekejap menjalar ke seluruh pelosok tubuhnya.

Setelah sekian lama menahan dirinya untuk tidak berejakulasi, Ricky harus menghentikan apapun yang ia kerjakan saat itu. Jika tidak, ia yakin dirinya tidak dapat menahan sensasi yang dirasakan pada penisnya, belum lagi ditambah dengan melihat ekspresi wajah Kumala yang sangat erotis.

Baru saja beberapa detik setelah Kumala menjadi tenang, Ricky yang berusaha sekuat tenaga untuk menahan ejakulasinya akhirnya tidak dapat menahan dirinya lagi. Ia mendekap erat-erat tubuh Kumala lalu menekan masuk penisnya sedalam mungkin. Bersamaan dengan itu, dari kepala penisnya menyembur luapan-luapan sperma panas yang menabrak dinding-dinding liang kewanitaan dan juga mulut rahim Kumala.

Hal ini membuat Kumala orgasme yang kedua kalinya. Kumala balas memeluk tubuh Ricky erat-erat. Ia memejamkan kedua matanya lalu tertidur pulas seakan meminum obat tidur atau obat bius
Sexy Girls, Download Video Scandal SEX, Video Porn, Sexy Video, Sexy Girl, Video HOT, Video Porno, JAV, JAV HD, Streaming Movie Porn, videoporno, Video Sexy, Film xxx, XXX Film Adult, Video Porno, Video Hot, Video Bokeb, Download JAV,film xxx, video sexy, sexy video, dvd xxx, film prono, filme xxx, videosporno, video x

iklan

 

Copyright © Video Porno Gabrool. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com